Jumat, 08 Januari 2010

i love u

Selasa, 24 Maret 2009

askep osteosarkoma

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price, 1962:1213 )

Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah penderita kanker ± 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker per tahun.

Menurut Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy.

Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui.

Melihat jumlah kejadian diatas serta kondisi penyakit yang memerlukan pendeteksian dan penanganan sejak dini, penulis tertarik untuk menulis makalah “ Asuhan Keperawatan Osteosarkoma “

1.2 TUJUAN

1.2.1 Tujuan Umum

Untuk mendapatkan gambaran dan mengetahui tentang bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien Osteosarkoma.

1.2.2 Tujuan Khusus

Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran asuhan keperawatan meliputi :

· Mampu memberikan gambaran tentang pengkajian pada klien dengan osteosarkoma

· Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan osteosarkoma.

· Mampu membuat rencana keparawatan pada klien dengan osteosarkoma.

· Mampu menyebutkan faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan keperawatan pada anak dengan Osteosarkoma.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 PENGERTIAN

Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung (Danielle. 1999: 244 ). Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh.( Wong. 2003: 595 )

Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim pembentuk tulang. ( Wong. 2003: 616 )

Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 )

Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.( Smeltzer. 2001: 2347 )

Klasifikasi tumor pada muskuloskletal adalah :

2.1.1 Tumor – tumor jinak ( benigna )

· Osteoma

Osteoma merupakan lesi tulang yang bersifat jinak dan ditandai oleh pertumbuhan tulang yang abnormal. Oateoma berwujud sebagai suatu benjolan yang tumbuh dengan lambat dan tidak nyeri. Pada pemeriksaan radiografi osteoma perifer tampak sebagai lesi yang meluas pada permukaan tulang. Sedangkan osteoma sentral tampak sebagai suatu masa berbatas jelas dengan tulang.

· Kondroblastoma

Konroblastoma adalah tumor jinak yang sering ditemukan pada tulang humerus. Gejala yang sering timbul adalah nyeri yang timbul pada tulang rawan.

· Enkondroma

Enkondroma adalah tumor jinak sel –sel rawan displastik yang timbul pada metafisis tulang tubular, terutama pada tangan dan kaki.

2.1.2 Tumor – tumor ganas ( maligna )

· Multipel mieloma

Tumor ganas pada tulang akibat proliferasi ganas dari sel sel plasma.

· Sarkoma osteogenik

Sarkoma osteogenik merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas

· Kondrosarkoma

Kondrosarkoma merupakan tumor tulang ganas yang terdiri dari kondrosit anaplastik yang dapat tumbuh sebagai tumor tulang perifer atau sentral.

2.2 ETIOLOGI

Etiologi dari osteosarkoma adalah :

    • Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
    • Keturunan ( genetik )
    • Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya yang disebabkan oleh penyakit.
    • Pertumbuhan tulang yang terlalu cepat.
    • Sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat pengawet, merokok dan lain-lain

2.3 ANATOMI dan FISIOLOGI

Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk gerak pasif, proteksi alat-alat di dalam tubuh, pemben Ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat. Ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat.

Sebagaimana jaringan pengikat lainnya, tulang terdiri dari komponen matriks dan sel. Matriks tulang terdiri dari serat-serat kolagen dan protein non-kolagen. Sedangkan sel tulang terdiri dari osteoblas, oisteosit, dan osteoklas.

Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteosid melalui suatu proses yang disebut osifikasi.

Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.

Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian maka kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker ke tulang.

Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.

Osteoklas adalah sel-sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulan90g sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. (Setyohadi, 2007; Wilson. 2005; Guyton. 1997)

2.4 PATOFISIOLOGI

2.5 MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis dari osteosarkoma adalah :

· Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit)

· Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas

· Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena

· Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise.

2.6 PENATALAKSANAAN

2.6.1 Penatalaksanaan medis

Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi kombinasi.

Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi.

Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena, diurelika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid.

( Gale. 1999: 245 ).

2.6.2 Tindakan keperawatan

· Manajemen nyeri

Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).

· Mengajarkan mekanisme koping yang efektif

Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan.

· Memberikan nutrisi yang adekuat

Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter.

· Pendidikan kesehatan

Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah.

( Smeltzer. 2001: 2350 )

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Diagnosis didasarkan pada riwayat, pemeriksaan fisik, dan penunjang diagnosis seperti CT, biopsi, dan pemeriksaan biokimia darah dan urine. Pemeriksaan foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow-up adanya stasis pada paru-paru. Hiperkalsemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari payudara, paru, dan ginjal. Gejala hiperkalsemia meliputi kelemahan otot, keletihan, anoreksia, mual, muntah, poliuria, kejang dan koma. Hiperkalsemia harus diidentifikasi dan ditangani segera. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histologik. Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan kekambuhan yang terjadi setelah eksesi tumor.

BAB III

ASUHAN KEPERAWARTAN OSTEOSARKOMA

3.1 PENGKAJIAN

3.1.1 Data biografi

Data biografi biasanya mencakup nama, umur, alamat, pekerjaan, No. MR, agama dan lain-lain yang dianggap perlu.

3.1.2 Riwayat kesehatan

3.1.2.1 Riwayat kesehatan sekarang

Klien mengatakan nyeri pada ekstremitas, sering berkeringat pada malam hari, nafsu makan berkurang dan sakit kepala.

3.1.2.2 Riwayat kesehatan dahulu

· Kemungkinan pernah terpapar sering dengan radiasi sinar radio aktif dosis tinggi

· Kemungkinan pernah mengalami fraktur

· Kemungkinan sering mengkonsumsi kalsium dengan batas narmal

· Kemungkinan sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat pengawet, merokok dan lain-lain

3.1.2.3 Riwayat kesehatan keluarga

Kemungkinan ada salah seorang keluarga yang pernah menderita kanker.

3.1.3 Pemeriksaan fisik

· Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena

· Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas

· Adanya tanda-tanda inflamasi

· Pemeriklsaan TTV klien

3.1.4 Pemeriksaan Diagnostik

lakukan pemeriksaan radiografi, pemindaian tulang, dan biopsi tulang.

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

· Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik penyakit

· Ansietas berhubungan dengan ketidak tahuan dengan penyakitnya

· Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker.

· Gangguan harga diri berhubungan dengan kehilangan peran

· Gangguan harga diri berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh

3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN

3.4 EVALUASI

· Pasien mampu mengontrol nyeri

Ø Melakukan teknik manajemen nyeri,

Ø Patuh dalam pemakaian obat yang diresepkan.

Ø Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari

· Masukan nutrisi yang adekuat

Ø Mengalami peningkatan berat badan

Ø Menghabiskan makanan satu porsi setiap makan

Ø Tidak ada tanda – tanda kekurangan nutrisi

· Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif.

Ø Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata

Ø Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien

Ø Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien

· Memperlihatkan konsep diri yang positif

Ø Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien

Ø Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri

· Klien dan keluarga siap menghadapi amputasi

BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 ).

Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui

Tanda dan gejala dari Osteosarkoma adalah Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena, pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas, teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena dan gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise.

4.2 SARAN

Makalah sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sebagai kelompok mengharapkan kritikan dan saran dari dosen pembimbing dan teman – teman sesama mahasiswa. Selain itu penyakit osteosarkoma ini sangat berbahaya dan kita sebagai host harus bisa menerapkan pola hidup sehat agar kesehatan kita tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.

Doenges, E, Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan keperawatan pasien. Edisi 3 . Jakarta : EGC.

Price, Sylvia & Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Smeltzer & Brenda G. bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi 8. Jakarta : EGC.


ASKEP OSTEOMALASIA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar belakang

Sebagaimana diketahui salah satu mineral utama penyusun tulang adalah kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium akan mengakibatkan berkurangnya kalsium yang terdapat pada tulang, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan pada mikroarstektur tulang dan tulang menjadi lunak Akibatnya tulang menjadi kehilangan kepadatan dan kekuatannya, sehingga mudah retak/patah.

Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang..

Banyak faktor yang dapat menyebabkan osteomalasia . Kekurangan kalsium dan vitamin D terutama di masa kecil dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa tulang yang maksimal, merupakan penyebab utama osteomalasia Konsumsi kalsium yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang umumnya terjadi pada dewasa , dapat menyebabkan osteomalasia ,selain itu ganguan pada sindroma malabsorbsi usus ,penyakit hati ,gagal ginjal kronis dapat juga menyebab terjadinya osteomalasia

Terjadinya osteomalasia merupakan rangkaian awal terjadinya osteoporosis .pada saat sekarang ini angka kejadian tersebut sangat meningkat tajam baik pada anak – anak ,dewasa atau pun orang tua

Berdasarkan hasil penelitian University of Otago, Selandia Baru, bekerja sama dengan Seameo Tropmed RCCN, Universitas Indonesia dan Universitas Putra Malaysia, yang dipublikasikan European Journal of Clinical Nutrition tahun 2007, perempuan Indonesia hanya mengonsumsi 270 miligram kalsium per hari.

Hal tersebut berarti asupan perempuan Indonesia bahkan kurang dari 50% rekomendasi kalsium harian yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tulang.

Asupan yang kurang dari 50% rekomendasi harian tersebut bahkan juga terjadi di 9 negara Asia, seperti terlihat pada penelitian yang dilakukan Lyengar dan tim pada 2004. Kebutuhan kalsium yang dianjurkan per harinya adalah 1.000-1.200 mg.

Data kepadatan tulang yang dianalisa oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi Bogor pada 2005, ditemukan bahwa 2 dari 5 orang Indonesia berisiko menderita kerapuhan tulang

Dari jumlah kejadian diatas dan kondisi penyakit yang memerlukan pendeteksian dan penanganan sejak dini, penulis tertarik untuk menulis makalah “ Asuhan Keperawatan osteomalasia

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Untuk mendapatkan gambaran dan mengetahui tentang bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien Osteomalasia

1.2.2 Tujuan Khusus

Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran asuhan keperawatan meliputi :

· Mampu memberikan gambaran tentang pengkajian pada klien dengan Osteomalasia

· Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan Osteomalasia

· Mampu membuat rencana keparawatan pada klien dengan Osteomalasia

· Mampu menyebutkan faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan keperawatan pada anak dengan Osteomalasi

BAB II

LANDASAN TEORITIS

2.1 Definisi Osteomalasia

Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang dikarakteristikkan oleh kurangnya mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang disebut rickets) pada orang dewasa, osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal, terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit). .( Smeltzer. 2001: 2339 )

Osteomalasia adalah penyakit pada orang dewasa yang ditandai oleh gagalnya pendepositan kalsium kedalam tulang yang baru tumbuh. Istilah lain dari osteomalasia adalah ”soft bone” atau tulang lunak. Penyakit ini mirip dengan rakitis, hanya saja pada penyakit ini tidak ditemukan kelainan pada lempeng epifisis (tempat pertumbuhan tulang pada anak) karena pada orang dewasa sudah tidak lagi dijumpai lempeng epifisis.( http://www.klikdokter.com/illness/detail/99 )

Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.

2.2 Etiologi Osteomalasia

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami osteomalasia yaitu:

a. Anak kekurangan kalsium dan vitamin D. Anak yang kekurangan kalsium akan mengalami gangguan pada proses mineralisasi. Demikian juga apabila ia kekurangan vitamin D. Di dalam tubuh vitamin D berfungsi membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh. Jika kedua unsur ini tidak terpenuhi makan tulang-tulang si kecil menjadi lunak dan mudah patah. Proses mineralisasi adalah proses proses terakhir pembentukan tulang. Jika kebutuhan kalsium anak tercukupi maka otomatis proses mineralisasi dalam tubuhnya akan berlangsung dengan baik.

b. Anak menderita gangguan hati seperti sirosis. Hal ini karena organ hatinya tak mampu memroses vitamin D sehingga fase mineralisasi tidak terjadi.

c. Adanya gangguan fungsi ginjal sehingga proses ekskresi/pembuangan kalsium akan meningkat. Dengan begitu proses mineralisasi akan terhambat.

d. Pemakaian obat dalam jangka waktu panjang. Pada kasus tertentu, efek pemakaian obat seperti streroid dalam jangka waktu yang panjang rentan terhadap penyakit ini.

e. Gangguan malabsorbsi

Penyebab utama osteomalasia yang terjadi setelah masa anak-anak ialah :

* Menurunnya penyerapan vitamin D akibat penyakit bilier, penyakit mukosa usus halus proksimal dan penyakit ileum.

* Peningkatan katabolisme vitamin D akibat obat yang me- nyebabkan peningkatan kerja enzim-enzim oksidase hati.

* Gangguan tubulus renalis yang disertai terbuangnya fosfat (acquired), renal tubular acidosis yang disertai disproteinemia kronik

2.3 Anatomi Fisiologi Tulang

Anatomi system skelet ada 206 tulang dalam tubuh manusia ,yang terbagi dalam kategori tulang panjang ,tulang pendek ,tulang pipih dan tulang tak teratur .Bentuk dan kontriksi tulang tertentu ditentukan oleh fungsi dan gaya yang bekerja padanya .

Tulang tersusun oleh jaringan tulang kanselus atau kortikal .tulang terdiri atas batang tulang ( diafisis ) yang terdiri darikortikal . ujung tulang panjang yang disebut epifisis dan terutama tersusun oleh tulang canselus .plat epifisis memisahkan epifisis dari diafisis dan merupakan pusat pertumbuhan longitudinal pada anak – anak .ujung tulang panjang di tutup oleh kartilago artikular pada sendi – sendinya .tulang panjang disusun untuk menyangga berat badan dan gerakan .tulang pendek terdiri dari tulang canselus ditutpi selapis tulang kompak ,tulang pipih merupakan tempat penting untuk hematopoesis ,dan sering memberikan perlindungan bagi organ vital .tulang pipih tersusun dari tulang calselus diantara 2 tulang kompak .tulang tak tetratur mempunyai bentuk yang unik ,sesuai dengan fungsinya.secara umum struktur tulang tak teratur sama dengan tulang pipih .

Tulang tersusun atas sel ,matriks tulang ,protein dan deposit mineral ,sel – sel nya terdiri atas 3 jenis dasar yaitu Ostoblas ,Osteosit dan Osteosklas .

Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang .matrik tulang tersusun atas 98% kolagen dan 2% substansi dasar dan proteiglikan .matrik merupakan kerangka dimana garam – garan mineral anorganik ditimbun .

Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon . Osteoklas adalah sel multi nuclear yang berperan dalam penghancuran , resobsi dan remodeling tulang .osteon merupakan unit fungsional mikroskopis tulang dewasa .di tengah osteon terdapat kapiler .di keliling kapiler tersebut merupakan matrik tulng yang disebut lamella .di dalam lamella terdapat osteosit yang memperoleh nutrisi melaui proses yang berlanjut ke dalam kanalikuli yang halus .

2.4 Patofisiologi (WOC )

2.5 Manifestasi Klinis Osteomalasia

Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah :

* nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah.. Nyeri tulang yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan paha

* Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).

* Penurunan berat badan

* Anoreksia

Pada anak – anak

* Munculnya tonjolan tulang pada sambungan antara tulang iga dan tulang rawan di bagian dada.

* Tulang terasa lunak dan jika disenduh akan merasakan nyeri mengigit

* Sakit pada seluruh tulang tubuhnya

* Mengalami gangguan motorik karena kurang beraktivitas dan menjadi pasif.

* Merasakan sakit saat duduk&mengalami kesulitan bangun dari posisi duduk ke posisi berdiri.

* Mudah Sekali mengalami patah tulang. Terutama di bagian tulang panjang seperti tulang lengan atau tulang kaki.

2.6 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan medik

* Jika penyebabnya kekurangan vitamin D, maka dapat disuntikkan vitamin D 200.000 IU per minggu selama 4-6 minggu, yang kemudian dilanjutkan dengan 1.600 IU setiap hari atau 200.000 IU setiap 4-6 bulan.

* Jika terjadi kekurangan fosfat (hipofosfatemia), maka dapat diobati dengan mengonsumsi 1,25-dihydroxy vitamin D.

Penatalaksanan non medik

* Jika kekurangan kalsium maka yang harus dilakukan adalah memperbanyak konsumsi unsur kalsium. Agar sel osteoblas (pembentuk tulang) bisa bekerja lebih keras lagi. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, buah, tahu, tempe, ikan teri, daging, yogurt. Konsumsi suplemen kalsium sangatlah disarankan.

* Jika kekurangan vitamin D, sangat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi makanan seperti ikan salmon, kuning telur, minyak ikan, dan susu. Untuk membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh cobalah sering berjemur di bawah sinar matahari pagi antara pukul 7 - 9 pagi dan sore pada pukul 16 -­ 17.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OSTEOMALASIA

3.1 Pengkajian

a. Biografi Klien

Nama lengkap :

Umur :

Jenis kelamin :

Alamat :

Pekerjaan :

Agama :

Status :

b. Riwayat Kesehatan

· RKS

¨ Pasien mengeluh nyeri tulang

¨ Ekstremitas disertai nyeri tekan

¨ Kelemahan otot

¨ Cara jalan bebek atau pincang

· RKD

¨ Kemungkinan klien pernah Malabsorbsi

¨ Kekurangan calsium dalam diet

¨ Klien pernah mengalami gagal ginjal kronik

¨ Klien pernah mengalami gangguan hati

· RKK

¨ Orangtua klien pernah mengalami osteomalasia

c. pemeriksaan Fisik

1. Ekstermitas

- Deformitas skelet

- Deformitas vertebra

- Deformitas lengkungan tulang panjang

- Otot Lemah

d. Data dasar Pengkajian

1. Aktivitas / istirahat

Tanda : keterbatasan fungsi pada bagian yang terkena, nyeri

2. Sirkulasi

Tanda : takikardia ( Respon stress )

3. Neurosensori

Gejala : hilang gerakan

Tanda : Deformitas local, kelemahan

4. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : nyeri tekan

    1. pemeriksaan diagnostik

Pada foto x – ray umumnya nampak kekurangan mineral dari tulang sangat nyata. Berdasar dari vertebra mungkin menunjukkan fraktur kompressi dengan nyeri pada ujung vertebra. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan lambatnya rata-rata serum kalsium dan jumlah fosfor serta kurangnya kenaikan alkaline phosfat. Ekskresi urine calsium dan creatinin lamba

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan kelemahan

2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan program tindakan

3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tungkai melengkung, jalan bebek, deformitas vertebra

intervensi

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

INTERVENSI

RASIONAL

1

2

3.

Nyeri berhubungan dengan kelemahan

Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan program tindakan

Gangguan konsep diri b/d tungkai melengkung, jalan bebek, deformitas vertebra

rasa nyeri berkurang.

Kriteria hasil :

· Klien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi dengan benar

· TTV klien normal

· Wajah klien tampak tenang dan tidak meringis

Menunjukkan peningkatan pengetahuan klien

Dan criteria hasil :

Mengetahui proses penyakit dan program tindakan

Menunjukkan keperacayaan diri mengenai kemampuannya

Kriteria hasil:

Meningkatkan tingkat kativitas klien

Meningkatkan interaksi sosial

· Kaji status nyeri ( lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri )

· Berikan lingkungan yang nyaman

· Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi.

Kolaborasi

Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri

· Kaji proses penyakit

· Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan , nutrisi

· Anjurkan pasien mengkonsumsi kalsium dan Vit, D sesuai jumlah terapeutik dan anjurkan pemajanan terhadap sinar matahari

· Menerangkan factor spesifik yang berperan dalam proses penyakit

· Memonitor tekanan rata-rata serum kalsium

· Mengajak pasien berdiskusi tentang body image dan metode koping yang efektif.

· Pasien diberi kesempatan untuk mengenal dan mengungkapkan perasaannya

· Membantu klien dalam interaksi sosia

· memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan.

· meningkatkan relaksasi klien

· meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien

· mengurangi nyeri dan spasme otot

Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi

Memberikan nutrisi optimal untuk meningkatkan regenerasi jaringan

Untuk mempercepat proses penyembuhan, Dimana target penting dan dibutuhkan untuk memproduksi vitamin D dalam tubuh.

Meminimalisasi kecemasan klien

Dosis yang tinggi dari vitamin D dapat menjadi racun dan faktor penunjang untuk terjadinya hypercalsemia

Untuk membangun sebuah hubungan kepercayaan pasien dalam hubungannnya dengan pelayanan perawat

Menciptakan partisipasi aktif pasien dan perawat dalam rangka mengontrol diri dan perasaannya untuk membantu memecahkan masalah

Membantu penerimaan klien akan keadaannya yang telah mengalami perubahan.


3.4 Implementasi

Implementasi merupakan tindakan yang dilakukan berdasarkan dari rencana yang telah disususun.

3.5. Evaluasi

Hasil yang diharapkan :

a.Pemahaman tentang proses penyakit dan prosedur perawatan.

1.)Pasien mengetahui proses perjalanan penyakit dan prosedur perawatan.

2.)Penggunaan sesuai kebutuhan terapy calsium dan vitamin D.

3.)Menjemur dibawah sinar matahari.

4.)Memonitor rata-rata serum kalsium untuk kelanjutan kesembuhan penyakit.

5.)Selalu follow up tentang semua ketetapan perawatan kesehatan.

b.Mencapai pengurangan rasa nyeri.

1.)Pasien melaporkan adanya perasaan nyaman.

2.)Pasien melaporkan berkurangnya kelemahan tulang.

c.Menunjukkan peningkatan konsep diri.

1.)Menunjukkan saling percaya dalam percakapan pasien - perawat.

2.)Peningkatan tingkat aktivitas

3.)Peningkatan interaksi sosial

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang dikarakteristikkan oleh kurangnya mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang disebut rickets) pada orang dewasa, osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal, terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit). .( Smeltzer. 2001: 2339 )

Osteomalasia terjadi akibat defisiensi vitamin D ataupun akibat defisiensi kalsium.Penyakit malabsorbsi ,gangguan hati dan gagal ginjal kronik dapat juga mengakibatkan terjadinya osteomalasia

Adapun tanda dan gejala dari osteomalasia ini adalah nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah.. Nyeri tulang yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan paha .Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).dan banyak tanda dan gejala lainnya

4.2 Saran

Makalah sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sebagai kelompok mengharapkan kritikan dan saran dari dosen pembimbing dan teman – teman sesama mahasiswa. Selain itu penyakit osteosarkoma ini sangat berbahaya dan kita sebagai host harus bisa menerapkan pola hidup sehat agar kesehatan kita tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.

Doenges, E, Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan keperawatan pasien. Edisi 3 . Jakarta : EGC.

Price, Sylvia & Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Smeltzer & Brenda G. bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Senin, 23 Maret 2009

Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita

ALAT REPRODUKSI WANITA

Terdiri alat / organ eksternal dan internal, sebagian besar terletak dalam rongga panggul.
Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi
Internal : fungsi ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi, pertumbuhan fetus, kelahiran.
Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon gondaotropin / steroid dari poros hormonal thalamus - hipothalamus - hipofisis - adrenal - ovarium.
Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ekstragenital yang juga dipengaruhi oleh siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen dan sebagainya.

GENITALIA EKSTERNA

Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.

Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.
Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.

Labia mayora
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena.
Homolog embriologik dengan skrotum pada pria.
Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia mayora.
Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior).

Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.

Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina.
Homolog embriologik dengan penis pada pria.
Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif.

Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus urogenital.
Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.

Introitus / orificium vagina
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous.
Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan / para.
Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.

Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan).
Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri.
Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.

Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra).
Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina.
Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

GENITALIA INTERNA

Uterus
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa).
Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.
Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan.
Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri.

Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid.

Corpus uteri
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.
Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita (gambar).

Ligamenta penyangga uterus
Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina.

Vaskularisasi uterus
Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis.

Salping / Tuba Falopii
Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri.
Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia.
Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda pada setiap bagiannya (gambar).

Pars isthmica (proksimal/isthmus)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet.
Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi "menangkap" ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.

Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).

Ovarium
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks dan medula.
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae "menangkap" ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.
Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

CATATAN :
Letak / hubungan anatomik antara organ2 reproduksi (uterus, adneksa, dsb) dengan organ2 sekitarnya di dalam rongga panggul (rektum, vesika urinaria, uretra, ureter, peritoneum dsb), vaskularisasi dan persarafannya, silakan baca sendiri.

ORGAN REPRODUKSI / ORGAN SEKSUAL EKSTRAGONADAL

Payudara
Seluruh susunan kelenjar payudara berada di bawah kulit di daerah pektoral. Terdiri dari massa payudara yang sebagian besar mengandung jaringan lemak, berlobus-lobus (20-40 lobus), tiap lobus terdiri dari 10-100 alveoli, yang di bawah pengaruh hormon prolaktin memproduksi air susu. Dari lobus-lobus, air susu dialirkan melalui duktus yang bermuara di daerah papila / puting. Fungsi utama payudara adalah laktasi, dipengaruhi hormon prolaktin dan oksitosin pascapersalinan.
Kulit daerah payudara sensitif terhadap rangsang, termasuk sebagai sexually responsive organ.

Kulit
Di berbagai area tertentu tubuh, kulit memiliki sensitifitas yang lebih tinggi dan responsif secara seksual, misalnya kulit di daerah bokong dan lipat paha dalam.
Protein di kulit mengandung pheromone (sejenis metabolit steroid dari keratinosit epidermal kulit) yang berfungsi sebagai ‘parfum’ daya tarik seksual (androstenol dan androstenon dibuat di kulit, kelenjar keringat aksila dan kelenjar liur). Pheromone ditemukan juga di dalam urine, plasma, keringat dan liur.

POROS HORMONAL SISTEM REPRODUKSI

Badan pineal
Suatu kelenjar kecil, panjang sekitar 6-8 mm, merupakan suatu penonjolan dari bagian posterior ventrikel III di garis tengah. Terletak di tengah antara 2 hemisfer otak, di depan serebelum pada daerah posterodorsal diensefalon. Memiliki hubungan dengan hipotalamus melalui suatu batang penghubung yang pendek berisi serabut-serabut saraf.
Menurut kepercayaan kuno, dipercaya sebagai "tempat roh".
Hormon melatonin : mengatur sirkuit foto-neuro-endokrin reproduksi. Tampaknya melatonin menghambat produksi GnRH dari hipotalamus, sehingga menghambat juga sekresi gonadotropin dari hipofisis dan memicu aktifasi pertumbuhan dan sekresi hormon dari gonad. Diduga mekanisme ini yang menentukan pemicu / onset mulainya fase pubertas.

Hipotalamus
Kumpulan nukleus pada daerah di dasar otak, di atas hipofisis, di bawah talamus.
Tiap inti merupakan satu berkas badan saraf yang berlanjut ke hipofisis sebgai hipofisis posterior (neurohipofisis).
Menghasilkan hormon-hormon pelepas : GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone), TRH (Thyrotropin Releasing Hormone), CRH (Corticotropin Releasing Hormone) , GHRH (Growth Hormone Releasing Hormone), PRF (Prolactin Releasing Factor). Menghasilkan juga hormon-hormon penghambat : PIF (Prolactin Inhibiting Factor).

Pituitari / hipofisis
Terletak di dalam sella turcica tulang sphenoid.
Menghasilkan hormon-hormon gonadotropin yang bekerja pada kelenjar reproduksi, yaitu perangsang pertumbuhan dan pematangan folikel (FSH - Follicle Stimulating Hormone) dan hormon lutein (LH - luteinizing hormone).
Selain hormon-hormon gonadotropin, hipofisis menghasilkan juga hormon-hormon metabolisme, pertumbuhan, dan lain-lain. (detail2, cari / baca sendiri yaaa…)

Ovarium
Berfungsi gametogenesis / oogenesis, dalam pematangan dan pengeluaran sel telur (ovum).
Selain itu juga berfungsi steroidogenesis, menghasilkan estrogen (dari teka interna folikel) dan progesteron (dari korpus luteum), atas kendali dari hormon-hormon gonadotropin.

Endometrium
Lapisan dalam dinding kavum uteri, berfungsi sebagai bakal tempat implantasi hasil konsepsi.
Selama siklus haid, jaringan endometrium berproliferasi, menebal dan mengadakan sekresi, kemudian jika tidak ada pembuahan / implantasi, endometrium rontok kembali dan keluar berupa darah / jaringan haid.
Jika ada pembuahan / implantasi, endometrium dipertahankan sebagai tempat konsepsi.
Fisiologi endometrium juga dipengaruhi oleh siklus hormon-hormon ovarium.

(gambar)
Histological appearance of endometrial tissues during the menstrual cycle.
A. Normal proliferative (postmenstrual) endometrium, showing small, tube-like pattern of glands.
B. Early secretory (postovulatory) endometrium, with prominent subnuclear vacuoles, alignment of nuclei, and active secretions by the endometrial glands.
C. Late secretory (premenstrual) endometrium, with predecidual stromal changes.
D. Menstrual endometrium, with disintegration of stroma / glands structures and stromal hemorrhage.

HORMON-HORMON REPRODUKSI

GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)
Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ).

FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada pria : memicu pematangan sperma di testis).
Pelepasannya periodik / pulsatif, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering tidak ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat oleh enzim inhibin dari sel-sel granulosa ovarium, melalui mekanisme feedback negatif.

LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron.
Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat.
(Pada pria : LH memicu sintesis testosteron di sel-sel Leydig testis).

Estrogen
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis.
Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta.
Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita.
Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium.
Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks.
Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel vagina.
Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara.
Juga mengatur distribusi lemak tubuh.
Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan / regenerasi tulang. Pada wanita pascamenopause, untuk pencegahan tulang keropos / osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon estrogen (sintetik) pengganti.

Progesteron
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta.
Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi.

HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)
Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta). Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml).
Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsi imunologik.
Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).

LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum.
Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental Lactogen).
Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi / pascapersalinan.
Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan pematangan follikel, gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa amenorhea.
__________________

pendidikan kesehatan masyarakat ( devisiensi vitamin A)

Sampai saat ini masalah gizi utama di Indonesia yang perlu ditanggulangi adalah masalah Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A (KVA), Anemia Gizi Besi (AGB), dan Kurang Energi Protein (KEP). Keempat masalah gizi tersebut banyak diderita oleh golongan rawan terutama pada bayi, balita, Wanita Usia Subur (WUS), ibu hamil dan ibu nifas. Disamping itu masalah gizi lebih cenderung meningkat, terutama di perkotaan.

Vitamin A adalah istilah umum untuk suatu kelompok senyawa yang memiliki aktivitas biologi dari retinol dan merupakan zat gizi esensial untuk penglihatan, reproduksi, pertumbuhan, diferensiasi epitelium, dan sekresi lendir/getah. Sumber utama vitamin A adalah pigmen karotenoid (umumnya β- karetin) dan retinil ester dari hewan. Senyawa ini diubah menjadi retinol dan diesterifikasi dengan asam lemak rantai panjang. Hasil dari retinil ester diabsorpsi bersama lemak dan ditransportasikan ke hati untuk disimpan (Gormall,1986).

Kebutuhan vitamin A sangat mempengaruhi aktifitas dari tubuh karena fungsi nya yang sangat konfleks.terutama berkaitan dengan fungsi mata dan pertumbuhan,itu sebabnya masalah kekurangan Vitamin A akan berdapak beruntun bagi kesehatann Masyarakat.hal yang sangat perlu untuk diperhatikan adalah bayi,ibu masa nifas .Wanita Usia Subur(WUS)

Di indonesia masalah KVA masih belum dapat diatasi,untuk itu perlu upaya yang serius yang wajib dilakukan oleh pemerintah karena banyak nya data yang menunjukan keseriusan dari masalah tersebut. Bila masalah ini tidak segera ditangani maka akan menimbulkan dapak yang sangat besar bagi masyarakat

Maslah KVA tidak hanya dialami oleh Indonesia sejumlah Negara di asia juga mengalaminya.Umumnya masalah defisiensi vitamin A dialami oleh negara yang sedang berkembang dan Negara miskin seperti India ,Nepal, Banglades, dan Indonesia.

VITAMIN A

Vitamin adalah zat organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah sangat sedikit, tapi sangat dibutuhkan dalam usaha mempertahankan gizi normal. Semua mahkluk hidup membutuhkan vitamin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tumbuh-tumbuhan dapat mensintesis sendiri vitamin untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan manusia dan hewan mendapatkan hampir semuanya dari makanan. Dalam beberapa hal, tubuh manusia dapat membuat vitamin, misalnya dari provitamin A (karoten) yang diubah menjadi vitamin A.

Dari semua vitamin tersebut, vitamin A paling banyak menimbulkan masalah. Salah satu dari empat masalah gizi yang dihadapi penduduk Indonesia dewasa ini adalah kekurangan vitamin A (KVA). Vitamin A merupakan vitamin yang paling tua dipelajari, terutama dalam hubungannya dengan masalah kebutaan. Pemenuhan kebutuhan vitamin A sangat penting untuk pemeliharaan keberlangsungan hidup secara normal. Kebutuhan tubuh akan vitamin A untuk orang indonesia telah dibahas dan ditetapkan dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (1998) dengan mempertimbangkan faktor-faktor khas dari keadaan tubuh orang Indonesia (Tabel 1).

Tabel 1. Daftar Kecukupan Konsumsi Vitamin A

Golongan Umur

Kebutuhan Vitamin A

(RE)

0-6 bulan

7-12 bulan

1-3 bulan

4-6 tahun

7-9 tahun

Pria

10-12 tahun

13-15 tahun

16-19 tahun

20-45 tahun

46-59 tahun

>60 tahun

Wanita

10-12 tahun

13-15 tahun

16-19 tahun

20-45 tahun

46-59 tahun

> 60 tahun

Hamil

Menyusui

0-6 bulan

7-12 bulan

350

350

350

460

400

500

600

700

700

700

600

500

500

500

500

500

500

+200

+350

+300

Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (1998)

Multimanfaat Secara garis besar, manfaat vitamin A adalah sebagai berikut

Fungsi :

  • Proses penglihatan.

Vitamin A dalam bentuk retinal akan bergabung dengan opsin (suatu protein) membentuk rhodopsin, yang merupakan pigmen penglihatan. Adanya rhodopsin itulah yang memungkinkan kita dapat melihat. Rendahnya konsumsi menyebabkan menurunnya simpanan vitamin A di dalam hati dan kadarnya di dalam darah. Akibat lebih lanjut adalah berkurangnya vitamin A yang tersedia untuk retina.untuk ituvitamin A dapat membantu mencegah kebutaan

  • Mengatur sistem kekebalan tubuh (imunitas).

Sistem kekebalan membantu mencegah atau melawan infeksi dengan cara membuat sel darah putih yang dapat menghancurkan berbagai bakteri dan virus berbahaya. Vitamin A dapat membantu limposit (salah satu tipe sel darah putih) untuk berfungsi lebih efektif dalam melawan infeksi.

  • Vitamin A dan betakaroten terbukti merupakan antioksidan yang dapat melindungi sel dari serangan radikal bebas untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit kronis, seperti jantung dan kanker.
  • memicu pertumbuhan balita . kecukupan konsumsi vitamin A sangat penting diperhatikan untuk anak-anak yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan
  • pemeliharaan rambut dan kulit
  • membantu hormon yang berperan dalam proses reproduksi. Vitamin A diperlukan dalam produktivitas hormon steroid (hormon seks) dan proses spermatogenesis (pembentukan sel sperma) yang sangat vital dalam proses pembuahan sel telur untuk menghasilkan keturunan .
  • Memelihara kesehatan sel-sel epitel pada saluran pernapasan
  • Membentuk dan memelihara pertumbuhan tulang dan gigi

Defisiensi

  • Defisiensi vitamin A menyebabkan kelenjar tidak mampu mengeluarkan air mata, sehingga film yang menutupi kornea mengering. Selanjutnya kornea mengalami keratinisasi dan pengelupasan, sehingga menjadi pecah. Infeksi tersebut menyebabkan mata mengeluarkan nanah dan darah. Dampak lebih lanjut adalah munculnya titik bitot (putih pada bagian hitam mata) serta terjadi gangguan yang disebut xerosis conjunctiva, xerophthalmia, dan buta permanen. Menangkal radikal bebas.
  • Defisiensi vitamin A menyebabkan terhambatnya pertumbuhan karena gangguan pada sintesis protein. Gejala ini sering tampak pada anak balita.
  • Defisiensi atau kekurangan vitamin A menyebabkan sel-sel epitel tidak mampu mengeluarkan mucus (lendir) dan membentuk cilia (semacam rambut) untuk mencegah akumulasi bahan asing pada permukaan sel. Karena itu, defisiensi vitamin A dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA)
  • Defisiensi vitamin A terbukti dapat menghambat pemanjangan tulang dan terbentuknya gigi yang sehat
  • Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan kulit dan rambut menjadi kasar dan kering.

Defisiensi vitamin A merupakan penyebab kebutaan kedua terbesar setelah katarak. Defisiensi vitamin A tingkat sedang dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan sistem imunitas (kekebalan) terhadap serangan penyakit infeksi.

Manifestasi klinis

  • Gejala awal dari defisiensi vitamin A adalah anak tidak lagi dapat melihat dengan jelas di sore hari, disebut sebagai buta senja
  • jika defisiensi vitamin A terus berlanjut maka akan terjadi
    • xerosis konjungtiva (bagian putih mata kering, kusam, tidak bersinar),
    • bercak bitot (bercak seperti busa sabun),
    • xerosis kornea (bagian hitam mata kering, kusam, dan tidak bersinar),
    • keratomalasia (sebagian dari hitam mata melunak seperti bubur),
    • ulserasi kornea (seluruh bagian hitam mata melunak seperti bubur),
    • xeroftalmia scars (bola mata mengecil atau mengempis),
    • akhirnya menjurus buta permanent

Etiologi

  • Penyebab utama defisiensi vitamin A adalah konsumsi yang kurang pada makanan sehari-hari.
  • Penyebab lainnya adalah meningkatnya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi pada kondisi fisiologis tertentu seperti:
    • seperti ketika sedang hamil dan menyusui
    • terganggunya proses penyerapan (malabsorpsi),
    • atau diare dan penyakit liver kronis.

Sumber

Sumber Vitamin A dapat dibedakan atas

  • preformed vitamin A (vitamin A bentuk jadi / Retinol)

sumber nya umum berasal dari hewani seperti daging, susu dan olahannya (mentega dan keju), kuning telur, hati ternak dan ikan, minyak ikan (cod, halibut, hiu).

  • provitamin A (bahan baku vitamin A).

Provitamin A atau korotenoid umumnya bersumber pada sayuran berdaun hijau gelap (bayam, singkong, sawi hijau), wortel, waluh (labu parang), ubi jalar kuning atau merah, buah-buahan berwarna kuning (pepaya, mangga, apricot, peach), serta minyak sawit merah.

Kesalahan pengolahan

Pada proses pengolahan lebih lanjut, banyak betakaroten yang hilang, sehingga kadarnya hanya tinggal sedikit pada minyak goreng. Betakaroten merupakan provitamin A yang paling efektif diubah oleh tubuh menjadi retinol (bentuk aktif vitamin A).

Karotenoid lainnya, seperti lycopene (tomat dan semangka), xanthopyl (kuning telur dan jagung), zeaxanthin (jagung), serta lutein, walaupun memiliki aktivitas untuk peningkatan kesehatan, bukan merupakan sumber vitamin A.

Penyerapan vitamin A oleh tubuh, antara lain dipengaruhi oleh konsumsi lemak dan sumber bahan pangannya. Dalam kondisi konsumsi lemak yang tepat, tingkat penyerapan vitamin A asal hewani dapat mencapai sekitar 80 persen. Kemampuan penyerapan karotenoid sangat tergantung pada keberadaan garam empedu, umumnya mencapai sekitar separuh dari penyerapan vitamin A asal hewani.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sumber vitamin A hewani jauh lebih baik daripada nabati. Mengingat tingkat penyerapan vitamin A sangat tergantung pada kecukupan konsumsi lemak

Upaya pengolahan sayuran menjadi sayur bersantan (sayur bobor atau lodeh) dan yang ditumis dengan sedikit minyak (oseng-oseng) akan jauh lebih baik dibandingkan dengan sayur bening atau lalap.

Diet rendah lemak yang terlalu ketat, karena alasan takut kegemukan atau untuk menghindari penyakit jantung, perlu ditinjau ulang. Kehadiran lemak dalam makanan sehari-hari tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh. Yang perlu diperhatikan adalah jenis dan jumlah lemak dalam menu harian. Lemak dengan kandungan asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA), lebih bermanfaat bagi kesehatan daripada lemak dengan kandungan asam lemak jenuh tinggi.

Untuk itu kontribusi lemak dalam makanan sebaiknya tidak melebihi 30 persen total kebutuhan energi per hari. Sumbangan energi terbesar tetap diharapkan berasal dari karbohidrat, yaitu sekitar 50-60 persen total kebutuhan energi, sisanya protein, yaitu sekitar 10-20 persen. (Prof. DR. Ir. Made Astawan, MS Dosen di Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi IPB)

Defisiensi vitamin A di Indonesia

Di dunia, sekarang ini sekitar 40 juta anak-anak menderita defisiensi vitamin A dan 13 juta anak menunjukkan gejala klinis gangguan pada mata. Sekitar sepertiga kematian anak-anak juga disebabkan oleh kekurangan vitamin A.

Di Indonesia, sekitar separuh anak balita menunjukkan defisiensi vitamin A subklinis (Malaspina, 1998). Selain itu, paling sedikit tiga juta anak di seluruh dunia menderita xeropthalmia yang dapat merusak kornea mata, dan 250.000 sampai 500.000 menderita buta setiap tahunnya akibat defisiensi vitamin A.

Kebanyakan penderita tinggal di negara-negara sedang berkembang. Dari berbagai studi terungkap bahwa kekurangan vitamin A menyebabkan seperempat dari kematian anak di negara berkembang.

Di dunia, tidak kurang dari dua juta anak meninggal setiap tahun karena kekurangan vitamin A. Hal tersebut terjadi karena selain menyebabkan kebutaan, kekurangan vitamin A juga menurunkan daya pertahanan tubuh. Dengan kondisi seperti itu, anak-anak akan mudah terserang penyakit infeksi, seperti campak, diare, dan tuberkulosa paru. Padahal, konsumsi vitamin A yang cukup akan meningkatkan sistem imun tubuh, sehingga terhindar dari penyakit tersebut.

Salah satu akibat Defisiensi Vitamin A Xerophtalmia Merenggut Penglihatan Balita . Kasus xeropthalmia, sebuah kelainan pada mata akibat kekurangan vitamin A tak bisa dipandang enteng. Dulu ada asumsi bahwa penyakit ini sudah tidak ada lagi di Indonesia. Tapi fakta berbicara bahwa xerophtalmia masih bisa dikatakan sebagai momok mengerikan bagi anak usia bawah lima tahun (balita).

Pada 1978—1980 Departemen Kesehatan (Depkes) bersama dengan Hellen Keller International (HKI) dan RS Mata Cocendo, Bandung mengadakan survei ihwal gangguan mata akibat kekurangan vitamin A. Didapat hasil bahwa prevalensi xerophtalmia status X1B sebanyak 1,2 persen, dan status X2 atau X3 sebanyak 9,8 persen per sepuluh ribu. Dari sini tergambar bahwa problem ini tergolong masalah kesehatan masyarakat.

Survei yang dilakukan kembali pada 1992 di 15 provinsi Indonesia mengungkapkan penurunan yang cukup lumayan. Prevalensi xerophtalmia status X1B tinggal 0,33 persen. Dan tipe X2 dan X3 menjadi 0,5 per 10.000. Namun bukan berarti Indonesia terbebas dari penyakit mengerikan ini.

xerophtalmia merupakan suatu tahap lanjutan akibat kekurangan vitamin A setelah seorang anak mengalami tahap seperti diare, kista, anemia, gangguan pertumbuhan. ”Ini diawali dengan kondisi kekurangan gizi yang dibiarkan saja.

Xerophtalmia sendiri bisa berakibat kebutaan kalau tak mendapat pengobatan,” Seorang anak yang mendapat asupan vitamin A cukup, kalau terganggu kesehatannya hanya akan mengalami penyakit yang tidak terlalu berbahaya. Demam, cacar dan sebagainya bisa sembuh dalam waktu singkat. Sedangkan anak yang mendapat asupan vitamin A berstatus marjinal cenderung mengidap suatu penyakit lebih lama dan berat. Dan pada anak yang memiliki status asupan vitamin A buruk, bisa terancam kebutaan dan bahkan kematian.

Biasanya faktor kemiskinan dan malnutrisi menjadi penyebab gangguan mata ini. Kalau seorang anak balita bertubuh kurus dan menderita malnutrisi mengalami gejala rabun senja maka harus segera diwaspadai. Rabun senja, yakni tak bisa melihat dengan jelas pada waktu senja dan malam menjadi gejala klinis xerophtalmia.

Gejala xerophtalmia.

  • Terlebih kalau disertai dengan diare, demam atau infeksi saluran pernapasan. Pada tahap ini berarti seorang anak sudah mencapai klasifikasi xerophtalmia XN, demikian menurut klasifikasi Badan Kesehatan Dunia WHO.
  • Jika dibiarkan maka bisa beranjak ke kondisi yang lebih parah, yakni Klasifikasi X1A di mana terjadi kekeringan konjungtiva pada mata dan munculnya kerut di sekitar mata.
  • Stadium berikutnya adalah munculnya serosis dan bercak bito di mata, yakni bercak putih menyerupai keju.Kondisi ini terjadi pada tahap klasifikasi X1B.
  • Makin lama kalau tidak dirawat kondisi ini berkembang ke klasifikasi X2 di mana kornea dan selaput mengering dan tampak suram. Pada tahap ini pasien masih bisa diobati dengan memberi asupan vitamin A dan gizi lain. ”Mata bisa kembali normal seperti semula kalau cepat ditangani,”
  • .Tapi kalau tak dirawat maka akan kian parah menjadi kalsifikasi X3A, yakni sepertiga kornea mata tertutup atau lebih populer dengan istilah keratomalcia.
  • Dan status yang lebih buruk lagi adalah klasifikasi X3B, di mana lebih dari sepertiga kornea tertutup.
  • Dan yang paling parah adalah Klasifikasi XS, seluruh mata sudah tertutup hingga tak bisa melihat.

    Hellen Keller International

Kondisi mata yang terserang xerophtalmia akibat kekurangan vitamin A.

Studi yang mengenai pertumbuhan linear anak usia 6 bulan hingga 4 tahun di Indonesia menunjukkan bahwa anak yang memiliki konsentrasi serum retinol yang rendah mencapai peningkatan tinggi badan yang lebih besar secara signifikan (0,39 cm/bulan) setelah suplementasi vitamin A dibanding kelompok kontrol. Anak yang berusia 24 bulan juga mencapai pertambahan tinggi badan yang lebih tinggi dibanding bayi ( Hadi, et. Al, 2000).

Kejadian efidemiologi menunjukkan bahwa adanya kaitan dengan konsumsi makanan yang mengandung karotenoid dengan lebih rendahnya kejadian kanker tipe-tipe tertentu, seperti kanker paru-paru, kanker kolon dan bladder (Brody,1994). Diduga bahwa aktivitas kanker berkaitan dengan pengaruh esensial dari vitamin A dalam diferensiasi sel-sel epitel (Linder,1992). Sebagai contoh konsumsi rutin sayuran hijau tua dan kuning, sayuran crucifera dan tomat berkaitan dengan penurunan angka kanker paru-paru (Marchand, et.al, 1989 dalam Brody, 1994).

Efek anti kanker dari sebagian besar tanaman tersebut berhubungan dengan β-karoten, dibanding produksi vitamin A dalam tubuh dari karotenoid. Efek anti kanker ari tomat berkaitan dengan Iycopene, dan sayuran hijau tua berkaitan dengan lutein. Pada saat studi lainnya menunjukkan bahwa kanker berkaitan dengan intik vitamin A sebanyak 5000 IU per hari dan tingkat kejadian yang tinggi berkaitan dengan intik 1700 hingga 2500 IU per hari (Brody, 1994). Pada tingkat pengetahuan saat ini tidak akan disarankan untuk menggunakan dosis dalam bentuk vitamin A, melainkan dalam bentuk karoten dengan dosis seperti yang direkomendasikan untuk konsumsi setiap hari (RDA) untuk pengobatan/pencegahan kanker (Linder,1992)

Studi pada hewan menunjukkan hubungan antara intik tinggi karotenoid dari buah-buahan dan sayur-sayuran dengan pengurangan resiko bebetapa penyakit berbahaya, termasuk kanker prostat. Studi yang dilakukan mengenai efek β-karoten terhadap laju pertumbuhan in vitro menunjukkan bahwa efek biologis invitro β-karoten terhadap sel-sel prostat menghasilkan konversi β-karoten ke retinol atau metabolit lainnya (Williams, Boileau, Zhou, Clinton & Erdman, 2000).

Hasil studi Slattery, et.al (2000) terhadap 1993 subyek berusia antara 30 hingga 79 tahun yang telah didiagnosis menderita kanker usus besar dan kontrol sebanyak 2410 pasien tidak menderita kanker menunjukkan bahwa beberapa jenis karoteoid, yaitu lutein dan zeaxanthin mempunyai efek melawan kanker usus besar, dengan efek yang lebih tinggi pada orang yang lebih muda. Sumber utama lutein yang dikonsumsi berasal dari bayam, brokoli, selada, tomat, wortel, jus jeruk, seledri, sayuran hijau dan telur. Hal ini menunjukkan efek antioksidan dan lutein dan zeaxanthin, yang mempunyai efektifitas biokimia dan reaksinya terhadap membran sel yang karsinogen pada usus besar

Usaha pemerintah dalam menaggulangi defisiensi Vitamin A

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memperkirakan sekitar 40-45 juta orang di dunia mengalami kebutaan, sepertiganya berada di Asia Tenggara. Berarti setiap menit diperkirakan 12 orang menjadi buta, empat orang diantaranya juga berasal dari Asia Tenggara. Pada anak, setiap menit terdapat satu anak menjadi buta dan hampir setengahnya berada di Asia Tenggara. Sedangkan pada balita, WHO memperkirakan ada 1,4 juta yang menderita kebutaan dimana tiga perempat diantaranya ada di daerah-daerah miskin di Asia dan Afrika.

Mengingat besarnya masalah kebutaan di dunia, WHO pada tanggal 30 September 1999, mencanangkan komitmen global Vision 2020: The Right to Sight untuk mendorong penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan tertentu yang sebenarnya dapat dicegah atau direhabilitasi.

Dalam upaya mencapai Vision 2020, WHO menetapkan setiap hari Kamis minggu kedua Oktober sebagai peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day/WSD). Pada tahun ini WSD jatuh pada tanggal 11 Oktober 2007, dengan tema peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day/WSD) tahun 2007 adalah Vision For Children.

Kriteria WHO untuk masalah vitamin A kesehatan masyarakat saat ini tidak hanya termasuk prevalensi defisiensi vitamin A yang berat dengan tanda dimata (seperti Xerosis kornea, bitot’s spot) tetapi juga indikator sub-klinis (seperti retinol serum yang rendah, retinol ASI yang rendah).

Diperkirakan setiap tahun, 3 hingga 10 juta anak, kebanyakan tinggal di negara berkembang mengalami xeropthamia, dan antara 250.000 hingga 500.000 menjadi buta. Program kesehatan masyarakat internasional untuk menjadikan prioritas utama untuk mengatasi defisiensi vitamin A dan xerothamia. Penyediaan suplemen vitamin A sebanyak 50.000 hingga 200.000 IU (15.000 – 60.000 μg RE, menurut umur) kepada anak-anak yang beresiko mengalami defisiensi vitamin A untuk melindungi selama 4 hingga 6 bulan. Perbaikan intek makanan jelas diperlukan sebagai penyelesaian jangka panjang terhadap defisiensi vitamin A (Ross, 1999).

Bila dibandingkan dengan angka kebutaan di negara-negara Regional Asia Tenggara, angka kebutaan di Indonesia merupakan yang tertinggi setelah Bangladesh (1%), India (0,7%), dan Thailand (0,3%). Sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengalami kebutaan berasal dari status ekonomi kurang mampu dan belum akses dengan pelayanan kesehatan.

Berdasarkan Survey Kesehatan Indera tahun 1993-1996, sebesar 1,5% penduduk Indonesia mengalami kebutaan dengan penyebab utama adalah Katarak (0,78%), Glaukoma (0,20%), Kelainan Refraksi (0,14%), Gangguan Retina (0,13%), dan Kelainan Kornea (0,10%). Kebutaan karena katarak kejadiannya diperkirakan 0,1% (sekitar 210.000 orang) per tahun.

Dengan adanya transisi pemerintahan baru di Indonesia, pemulihan ekonomi dirancang akan tercapai dalam waktu 3-5 tahun,menurut paraanalis. Meskipun demikian, krisis telah memberi dampak yang berarti terhadap status nutrisi dan kesehatan masyarakat. Meskipun akhir dari krisis ekonomi saat ini telah terlihat,ancaman timbulnya kembali KVA masih menjadi masalah yang perlu segera dipecahkan.

Sampai saat ini masalah gizi utama di Indonesia yang perlu ditanggulangi adalah salah satunya yaitu kekurangan Vitamin A (KVA) masalah ini banyak diderita oleh golongan rawan terutama pada bayi, balita, Wanita Usia Subur (WUS), ibu hamil dan ibu nifas. Disamping itu masalah gizi lebih cenderung meningkat, terutama di perkotaan.

Dampak masalah gizi dan kesehatan terhadap anak dan kualitas manusia dapat digambarkan bahwa gizi kurang dan infeksi mengakibatkan tumbuh kembang otak tidak optimal dan berakibat rendahnya mutu manusia, sehingga menjadi beban. Sedangkan gizi cukup dan sehat akan membuat anak menjadi lebih cerdas dan produktif sebagai tanda mutu kualitas SDM yang tinggi dan dapat menjadi aset nasional.

Permasalahan yang dihadapi Indonesia dan harus mendapat penanganan segera adalah bagaimana mencegah agar sekitar sepuluh juta anak balita yang menderita kekurangan Vitamin A sub klinis segera diatasi, bahkan 60 ribu diantara anak balita tersebut disertai dengan gejala Bercak Bitot yaitu terdapat garis merah pada bola mata, sehingga mereka terancam kebutaan. Gejala ini banyak terdapat di daerah-daerah yang kondisi gizinya buruk

Salah satu kegiatan dalam pencegahan dan penanggulangan Gizi Mikro adalah penanggulangan kurang vitamin A (KVA), terutama pada bayi dan balita yang tidak mendapat ASI Eksklusif dari orang tuanya. Karena di dalam ASI sudah terdapat begitu besar kandungan protein,vitamin dan mineral termasuk Vitamin A .

Program penanggulangan KVA sebenarnya telah dilaksanakan sejak tahun 1970. Namun sampai saat ini KVA masih merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia, terlebih ketika krisis moneter melanda Indonesia masalah gizi buruk kembali mencuat kepermukaan, walaupun pada tahun 1992 bahaya kebutaan akibat KVA mampu diturunkan secara bermakna, tetapi 50,2% balita masih menderita KVA sub klinis yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak.

Dalam menanggulangi KVA di Indonesia khususnya pada balita 6-59 bulan, Depkes telah bekerjasama dengan Helen Keller Indonesia (HKI), melalui strategi pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi pada balita dan ibu nifas. Pada balita diberikan 2 kali setahun, yaitu setiap bulan Februari dan Agustus secara gratis dengan kategori 0-1 tahun kapsul biru dan diatas dua tahun dengan kapsul warna merah yang bisa didapat di Puskesmas dan posyandu.

Kelompok rentan kekurangan vitamin A

  • terjadi pada anak-anak dari keluarga miskin,
  • anak yang tinggal di daerah pengungsian,
  • anak-anak yang tinggal di daerah dengan ketersediaan pangan sumber vitamin A kurang.
  • anak dengan pola asuh tidak baik,
  • anak yang tidak mendapat imunisasi,
  • anak yang tidak dapat vitamin A pada Februari dan Agustus,
  • serta adanya pantangan makanan tertentu pada anak.

Karenanya Suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi, yang dilakukan Indonesia setiap Februari dan Agustus, dimaksudkan untuk mencegah bayi dan anak-anak balita yang menderita xeropthalmia (kebutaan akibat kekurangan Vitamin A) yang menyebabkan permukaan kornea mata menjadi kering.

Hasil penelitian yang dilakukan Survei Pemantauan Status Gizi dan Kesehatan (Nutrition & Health Surveillance System) selama 1998-2002 menunjukkan, sekitar 10 juta anak balita yang berusia enam bulan hingga lima tahun, berarti setengah dari populasi anak balita di Indonesia berisiko menderita kekurangan vitamin A.

Bahkan dari penelitian Depkes bekerjasama dengan Helen Keller International setiap tiga bulan sekali, makanan yang dikonsumsi masayarakat Indonesia sehari-hari di bawah angka kecukupan vitamin A yang ditetapkan untuk anak balita, yaitu 350-460 Retino Ekivalen per hari.

Amy L Rice, Direktur Program Vitamin A Helen keller International mengatakan, kekurangan vitamin A merupakan masalah utama yang menimpa anak-anak di Indonesia. Anak-anak yang tidak yang tidak tercukupi kebutuhan vitamin A-nya akan terganggu kesehatan mata, kemampuan penglihatan, maupun kekebalan tubuhnya.

Yang memprihatinkan, kebutaan yang disebabkan kekurangan vitamin A tidak dapat disembuhkan. Dengan demikian, anak-anak yang kekurangan vitamin A bisa mengalami kebutaan sepanjang hidupnya.

Sementara itu, Elviyanti Martini Direktur Manajemen Data dan Operasi Lapangan Program Vitamin A helen Keller International (HKI), dari penelitian yang dilakukan di sembilan provinsi ditemukan beberapa kasus kebuitaan pada anak balita:

antara lain

  • NTB (20 kasus),
  • Jabar (9 kasus),
  • Sumsel (26 kasus).

Sebagian anak balita yang diteliti itu menderita penyakit mata dalam stadium lanjut akibat kekurangan vitamin A, sehingga tidak dapat disembuhkan. Kerusakan bola mata itu disebut keratomalasia (sebagian dari hitam mata melunak seperti bubur), ulerisasi kornea (seluruh bagian hitam melunak seperti bubur), hingga kondisi parah xeroftalmia scars (bola mata mengecil dan mengempis).

Sedangkan anak dengan gejala buta senja hingga xerosis kornea (bagian mata kering, kusam, dan tidak bersinar) masih dapat disembuhkan dengan pemberian satu kapsul vitamin A sesuai usia.

  • Bayi yang berusia hingga lima bulan diberi setengah kapsul biru yang dosisnya 50.000 SI (standar internasilnal),
  • sedangkan bayi 6-11 bulan mendapat satu kapsul biru
  • Untuk anak usia 1-5 tahun mendapat kapsul merah (200.000 SI).
  • Selanjutnya hari kedua dan dua minggu kemudian diberikan satu kapsul vitamin A sesuai usianya.

Mereka yang mengalami buta senja dapat pulih setelah sehari mendapat kapsul vitamin A. Sedangkan yang mengalami xerosis kornea dengan mengikuti program pemberian kapsul vitamin A dapat disembuhkan dalam waktu sebulan.

Sedangkan untuk mencapai Vision 2020-The Right to Sight, Departemen Kesehatan telah mengembangkan strategi-strategi yang dituangkan dalam Kepmenkes No. 1473/MENKES/SK/2005 tentang Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (Renstranas PGPK).

Adapun strategi nasional PGPK tersebut adalah:

  • Pembentukan Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (KOMNAS PGPK) Meningkatkan advokasi dan komunikasi dengan LP/LS
  • Menjalin kemitraan untuk penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan
    Meningkatkan kualitas dan Kuantitas SDM yang terlibat dalam penanggulangan gangguan penglihatan
  • Meningkatkan manajemen program dan infra struktur untuk penanggulangan gangguan penglihatan
  • Mobilisasi sumber daya dan lembaga donor dalam dan luar negeri yang mendukung pelaksanaan penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan.

pendidikan kesehatan masyarakat

PENYAKIT AKIBAT KERJA DARI GOLONGAN FISIK

Penyakit akibat kerja dari golongan fisik antara lain :

1. Suara

Contoh : tuli
2. Radiasi
Rontgen : penyakit darah. Kelainan kulit
Infra merah : katarak
Ultraviolet : konjungtivitis fotoelektrik
3 Suhu
Panas : heat stroke, heat cramps
Dingin : frostbite
4 Tekanan udara

Contoh : tinggi (caisson disease)
5 Cahaya

Contoh : silau, asthenopia, myopia

SUARA

Penyebab :kegiatan di lingkungan kerja seperti mesin industri atau mesin kendaraan yang dikemudikan

Bising adalah bunyi yang tidak diinginkan, mengganggu, mempunyai sumber dan menjalar melalui media perantara. Secara fisik, bising merupakan gabungan berbagai macam bunyi dengan berbagai frekuensi yang hampir tidak mempunyai periodisitas, tidak mempunyai arti, tidak berguna dan memiliki intensitas yang selalu berubah secara acak setiap saat.

Bising dapat berbahaya bila intensitasnya telah melampaui nilai ambang batas (NAB) yang diperbolehkan dan lama paparannya melampaui batas waktu yang diperkenankan..

contoh, bila seorang bekerja di dalam ruangan dengan intensitas bising sebesar 93-95 dB dan tanpa alat pelindung telinga, maka ia hanya boleh berada di ruangan itu selama 4 jam, pada kebisingan 96-100 dB hanya boleh selama 2 jam, dan seterusnya.

Hasil penelitian menunjukkan, intensitas bising sekitar 90-100 dB dengan lama papar harian antara 8-9 jam dalam jangka waktu 9-10 tahun dapat mengakibatkan TAB. Pada beberapa keadaan, misalnya penderita kencing manis, penggunaan obat yang bersifat ototoksis (streptomisin, kina, dan sebagainya) secara terus-menerus, penderita penyakit jantung atau memiliki riwayat gangguan pendengaran secara genetik, maka TAB akan lebih cepat terjadi. Jadi intensitas bising yang diterima telinga dan atau makin lama waktu papar harian maka akan cepat pula menderita TAB.

Bising dengan intensitas yang cukup tinggi dengan waktu papar cukup lama akan menimbulkan kerusakan pada sel-sel rambut (hair cells) yang terdapat di telinga bagian dalam (cochlea). Sel rambut adalah sel yang berfungsi mengubah energi akustik menjadi rangsang listrik untuk dapat diteruskan ke pusat persepsi pendengaran di otak. Sehingga kerusakan pada sel rambut menyebabkan terganggunya proses mendengar dengan akibat terjadi penurunan fungsi pendengaran. Pada awalnya hanya bersifat sementara, tetapi bila paparan bising berlangsung terus maka kerusakan akan menetap. Kerusakan pendengaran juga akan lebih cepat terjadi bila intensitas meningkat tajam secara tiba-tiba (high explosive) seperti ledakan bom atau mercon berukuran besar (trauma akustik).

Gejala
Gejala awal yang sering dikeluhkan adalah sensasi telinga berdenging (tinitus) yang hilang timbul. Tinitus akan menjadi terus-menerus atau akan menjadi lebih keras sensasinya bila paparan bising ulangan atau terpapar bising dengan intensitas lebih besar. Tinitus akan lebih mengganggu bila berada dalam suasana sunyi atau pada saat penderita akan tidur sehingga sebagian penderita TAB sulit berkonsentrasi dan sukar tidur.

Gejala lain adalah penurunan fungsi pendengaran, akibatnya pasien akan mengeluh sulit bercakap-cakap terutama bila berada dalam ruangan yang cukup ramai (Cocktail party deafness). Lebih jauh lagi penderita sulit bercakap-cakap walaupun berada dalam ruangan yang sunyi.

pencegahan:

Tujuan utama perlindungan terhadap pendengaran adalah untuk mencegah

terjadinya NIHL yang disebabkan oleh kebisingan di lingkungan kerja.

Program ini terdiri dari 3 bagian yaitu : 13

1. Pengukuran pendengaran

Test pendengaran yang harus dilakukan ada 2 macam, yaitu :

  • Pengukuran pendengaran sebelum diterima bekerja.
  • Pengukuran pendengaran secara periodik.

2. Pengendalian suara bising

Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

  • Melindungi telinga para pekerja secara langsung dengan memakai ear
  • muff ( tutup telinga ), ear plugs ( sumbat telinga ) dan helmet (
  • pelindung kepala ).
  • Mengendalikan suara bising dari sumbernya, dapat dilakukan
  • dengan cara :
    • memasang peredam suara

RADIASI

Radiasi adalah gelombang atau partikel berenergi tinggi yang berasal dari sumber alami atau sumber yang sengaja dibuat oleh manusia.
Cedera jaringan bisa terjadi akibat pemaparan singkat radiasi tingkat tinggi atau pemaparan jangka panjang radiasi tingkat rendah.
Beberapa efek yang merugikan dari radiasi hanya berlangsung singkat, sedangkan efek lainnya bisa menyebabkan penyakit menahun.
Efek dini dari radiasi dosis tinggi akan tampak jelas dalam waktu beberapa menit atau beberapa hari. Efek lanjut mungkin baru tampak beberapa minggu, bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian.
Mutasi (pergeseran) bahan genetik dari sel-sel organ kelamin akan tampak jelas hanya jika korban pemaparan radiasi memiliki anak, dimana anaknya mungkin terlahir dengan kelainan genetik.

Penyebab

Sumber radiasi tingkat tinggi yang paling sering ditemukan adalah bahan radioaktif yang dibuat oleh manusia, yang digunakan dalam berbagai pengobatan medis, laboratorium ilmiah, industri dan reaktor tenaga nuklir

Efek yang dapat merusak dari radiasi tergantung pada

  1. Jumlah (dosis)
    Dosis tunggal yang diberikan dalam waktu singkat bisa berakibat fatal, tetapi dosis yang sama yang diberikan selama beberapa minggu atau beberapa bulan bisa hanya menimbulkan efek yang ringan.
  2. Lamanya pemaparan
  3. Kecepatan pemaparan.
    Jumlah dosis total dan kecepatan pemaparan menentukan efek radiasi terhadap bahan genetik pada sel.
  4. Banyaknya bagian tubuh yang terkena radiasi
    Jika disebarluaskan ke seluruh permukaan tubuh, radiasi yang lebih besar dari 6 gray biasanya menyebabkan kematian, tetapi jika hanya diarahkan kepada sebagian kecil permukaan tubuh (seperti yang terjadi pada terapi kanker), maka 3-4 kali jumlah tersebut bisa diberikan tanpa menimbulkan efek yang berbahaya bagi tubuh
  5. 5 Penyebarluasan radiasi di dalam tubuh
    Bagian tubuh dimana sel-sel membelah dengan cepat (misalnya usus dan sumsum tulang), lebih mudah mengalami kerusakan akibat radiasi daripada sel-sel yang membelah secara lebih lambat (misalnya otot dan tendo).
    Oleh karena itu, selama menjalani terapi radiasi untuk kanker, diusahakan agar bagian tubuh yang lebih peka terhadap radiasi

Efek radiasi sifatnya kumulatif, setiap pemaparan baru akan ditambahkan kepada pemaparan sebelumnya untuk menentukan dosis total dan kemungkinan efeknya pada tubuh. Semakin tinggi kecepatan dosis atau dosis totalnya, maka semakin besar kemungkinan timbulnya resiko.

Gejala

  1. Sindroma otak
  2. terjadi jika dosis total radiasi sangat tinggi (lebih dari 30 gray) dan selalu berakibat fatal.
    Gejala awal berupa mual dan muntah, lalu diikuti oleh lelah, ngantuk dan kadang koma. Gejala ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya peradangan otak.
    Beberapa jam kemudian akan timbul tremor (gemetar), kejang, tidak dapat berjalan dan kematian.
  3. sindroma saluran cernan

terjadi akibat dosis total radiasi yang lebih rendah (tetapi tetap tinggi, yaitu 4 gray atau lebih).
Gejalanya berupa mual hebat, muntah dan diare, yang menyebabkan dehidrasi berat. Pada awalnya gejala timbul akibat kematian sel-sel yang melapisi saluran pencernaan.
Gejala tetap ada akibat lepasnya lapisan saluran pencernaan secara progresif dan akibat infeksi bakteri. Pada akhirnya, sel-sel yang menyerap zat gizi dihancurkan seluruhnya dan darah merembes dari daerah yang terluka ke dalam usus.
Mungkin akan tumbuh sel-sel yang baru, biasanya dalam waktu 4-6 hari setelah pemaparan. Tetapi meskipun terjadi pertumbuhan sel yang baru, penderita sindroma ini kemungkinan akan meninggal karena adanya gagal sumsum tulang, yang biasanya terjadi 2-3 minggu kemudian.

  1. 4Sindroma hematopioetik

menyerang sumsum tulang, limpa dan kelenjar getah bening, yang kesemuanya tempat pembentukan sel-sel darah yang utama.
Sindroma ini terjadi jika dosis total mencapai 2-10 gray dan diawali dengan berkurangnya nafsu makan, apati, mual dan muntah. Gejala yang paling berat terjadi dalam waktu 6-12 jam setelah pemaparan dan akan menghilang dalam waktu 24-36 setelah pemaparan.
Selama periode bebas gejala, sel penghasil darah di dalam limpa, kelenjar getah bening dan sumsum tulang, mulai berkurang sehingga sel-sel darah merah dan putihpun sangat berkurang. Kekurangan sel darah putih seringkali menyebabkan terjadinya infeksi yang berat.
Jika dosis total lebih dari 6 gray, maka biasanya kelainan fungsi hematopoietik dan saluran pencernaan akan berakibat fatal.
Pada sebagian kecil pasien, sakit radiasi akut terjadi setelah menjalani terapi radiasi, terutama pada perut. Gejalanya berupa mual, muntah, diare, nafsu makan menurun, sakit kepala, merasa tidak enak badan dan denyut jantung meningkat.
Gejala biasanya menghilang dalam beberapa jam atau beberapa hari. Penyebabnya belum diketahui.
Pemaparan berulang atau pemaparan jangka panjang oleh radiasi dosis rendah dari implan radioaktif atau sumber eksternal, bisa menyebabkan:
- terhentinya menstruasi (amenore)
- berkurangnya kesuburan pada pria dan wanita
- berkurangnya gairah seksual (libido) pada wanita
- katarak
- berkurangnya jumlah sel darah merah (anemia), sel darah putih (leukopenia dan trombosit (trombositopenia).

SUHU

Bila tubuh dibiarkan terpapar oleh dehidrasi yang terus berlanjut akan menyebabkan "heat stroke" atau tubuh menjadi sangat panas. Keadaan seperti ini sangat membahayakan kesehatan. Paling rendah konsentrasi berkurang atau hilang dan berhalusinasi ringan, jika dibiarkan akan tubuh akan kejang ringan hingga berat.

Heat Stroke yang disebabkan kegagalan bekerja Susunan Syaraf Pusat.

disebabkan kegagalan bekerja Susunan Syaraf Pusat, minum biasa tanpa elektrolit dalam mengatur pengeluaran keringat, suhu tubuh dapat mencapai 40 C , disini keadaan sudah tidak sadar, dilarang memberikan apapun lewat mulut, karena bisa masuk Paru paru.

TEKANAN UDARA

Karena tingginya tingkat pencemaran udara ,seperti akibat asap – asap pabrik dan pembakaran serta asap dari kendaraan bermotor dapat meningkatkan frekuensi zat –zat kimia di udara yang akan menggagu fungsi tubuh terutama fungsi – fungsi vital tubuh

CAHAYA

Penggunaan alat –alat teknologi seperti komputer ,las, yang cahaya yang di pantulakan oleh alat – alat tersebut dapat mengganggu fungsi mata dan dapat merusak gfungsi mata,



PKKDM ( pemeriksaan Diagnostik )

Elektrodiogram (EKG)

A. DEFINISI


Elektrodiogram adalah grafik yang merekam perubahan potensial listrik jantung yang dihubungkan dengan waktu. Elektrodiografi adalah ilmu yang mempelajari perubahan¬-perubahan potensial atau perubahan voltage yang terdapat dalam jantung.
Dalam EKG perlu diketahui tentang sistem konduksi (listrik jantung), yang terdiri dari
1. SA Node
Terletak dibatas atrium kanan (RA) dan vena cava superior (VCS). Sel-sel dalam SA Node ini bereaksi secara otomatis dan teratur mengeluarkan impuls (rangsangan listrik) dengan frekuensi 60 - 100 kali permenit kemudian menjalar ke atrium, sehingga menyebabkan seluruh atrium terangsang.

2. AV Node
Terletak di septum internodal bagian sebelah kanan, diatas katup trikuspid. Sel-sel dalam AV Node dapat juga mengeluar¬kan impuls dengan frekuensi lebih rendah dan pada SA Node yaitu : 40 - 60 kali permenit. Oleh karena AV Node mengeluarkan impuls lebih rendah, maka dikuasai oleh SA Node yang mempunyai impuls lebih tinggi. Bila SA Node rusak, maka impuls akan dikeluarkan oleh AV Node.

3. Berkas HIS
Terletak di septum interventrikular dan bercabang 2, yaitu :
1. Cabang berkas kiri ( Left Bundle Branch)
2. Cabang berkas kanan ( Right Bundle Branch )
Setelah melewati kedua cabang ini, impuls akan diteruskan lagi ke cabang-cabang yang lebih kecil yaitu serabut purkinye.

4. Serabut Purkinye
Serabut purkinye ini akan mengadakan kontak dengan sel-sel ventrikel.
Dari sel-sel ventrikel impuls dialirkan ke sel-sel yang terdekat sehingga seluruh sel akan dirangsang. Di ventrikel juga tersebar sel-sel pace maker (impuls) yang secara otomatis mengeluarkan impuls dengan frekuensi 20 - 40 kali permenit.

B. TUJUAN EKG
1. Untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan irama jantung
2. Kelainan-kelainan otot jantung
3. Pengaruh/efek obat-obat jantung
4. Ganguan -gangguan elektrolit
5. Perikarditis
6. Memperkirakan adanya pembesaran jantung

C. INDIKASI

Indikasi pemasangan
1. Pada pasien penderita jantung

2. Pada pasien yang dioperasi
3. Pada pasien koma
4. Pada pasien yang menderita penyakit tertentu yang memungkinkan pemasangan EKG

D. DESKRIPSI TINDAKAN

1. PERSIAPAN ALAT-ALAT EKG.
a. Mesin EKG yang dilengkapi dengan 3 kabe
l, sebagai berikut :
b. Satu kabel untuk listrik (power)
c. Satu kabel untuk bumi (ground)
d. Satu kabel untuk pasien, yang terdiri dari 10 cabang dan diberi tanda dan warna.
e. Plat elektrode yaitu
f. 4 buah elektrode extremitas dan manset
g. 6 Buah elektrode dada dengan balon penghisap.
h. Jelly elektrode / kapas alkohol
i. Kertas EKG (telah siap pada alat EKG)
j. Kertas tissue

2. PERSIAPAN PASIEN
a. Pasieng diberitahu tentang tujuan perekaman EKG
b. Pakaian pasien dibuka dan dibaringkan terlentang dalam keadaan tenang selama perekaman

c. Bersihkan permukaan kulit dengan alkohol dan kasa sebelum memasang elektroda. Bila daerah yang akan dipasang elektroda banyak rambut, sebaiknya cukurlah rambut pada daerah tersebut

b. Oleskan sedikit benzoin pada kulit bila pasien banyak berkeringat sehingga elektroda dapat menempel dengan balk

d. Gantilah elektroda setiap 24 sampai 48 jam dan periksa bila ada iritasi . kulit. Tempelkan elektroda pada lokasi yang berbeda setiap kali penggantian

e Bila pasien sensitif terhadap elektroda, gunakan elektroda hipoalergenik.

f. klien Melepaskan benda-benda yang bersifat logam seperti jam tangan, cincin, gigi emas dll. Yang dapat mempengaharui atau mengganggu pada saat perekaman.

3. CARA MENEMPATKAN ELEKTRODE
Setelah pasien disispakan kemudian hubungkan kabel elektrode dengan pasien.
1. Elektrode extremitas atas dipasang pada pergelangan tangan kanan dan kiri searah dengan telapak tangan.
2. Pada extremitas bawah pada pergelangan kaki kanan dan kiri sebelah dalam.
3. Posisi pada pengelangan bukanlah mutlak, bila diperlukan dapatlah dipasang sampai ke bahu kiri dan kanan dan pangkal paha kiri dan kanan.
Kemudian kabel-kabel dihubungkan :
Merah
Ø (RA / R) lengan kanan
Kuning (LA/ L) lengan kiri
Ø
Hijau (LF / F ) tungkai kiri
Ø
Hitam (RF / N) tungkai kanan (sebagai ground)
Ø
Hasil pemasangan tersebut terjadilah 2 sandapan (lead)
1. Sandapan bipolar (sandapan standar) dan ditandai dengan angka romawi I, II, III.
2. Sandapan Unipolar Extremitas (Augmented axtremity lead) yang ditandai dengan simbol aVR, aVL, aVF.
3 Pemasangan elektroda dada (Sandapan Unipolar Prekordial), ini ditandai dengan huruf V dan disertai angka di belakangnya yang menunjukkan lokasi diatas prekordium, harus dipasang pada :
VI : sela iga ke 4 garis sternal kanan
V2 : sela iga ke 4 pada garis sternal kiri
V3 : terletak diantara V2 dan V4
V4 : ruang sela iga ke 5 pada mid klavikula kiri
V5 ; garis aksilla depan sejajar dengan V4
V6 ; garis aksila tengah sejajar dengan V4
Sandapan tambahan
V7 : garis aksila belakang sejajar dengan V4
V8 : garis skapula belakang sejajar dengan V4
V9 : batas kin dan kolumna vetebra sejajar dengan V4
V3R - V9R posisinya sama dengan V3 - V9, tetapi pada sebelah kanan. Jadi pada umumnya pada sebuah EKG dibuat 12 sandapan (lead) yaitu
I II III aVR aVL aVF
VI V2 V3 V4 V5 V6

4. Lokasi permukaan otot jantung dapat dilihat pada EKG, seperti :
1. Anterior : V2, V3, V4
2. Septal : aVR, V1, V2
3. Lateral : I, aVL, V5, V6
4. Inferior : II, III, aVF
Aksis terletak antara : - 30 sampai + 110 (deviasi aksis normal)
Lebih dari – 30 : LAD (deviasi aksis kiri)
Lebih dari dari + 110 : RAD (deviadi aksis kanan)

5. CARA MEREKAM EKG
1. Hidupkan mesin EKG dan tunggu sebentar untuk pemanasan.
2. Periksa kembali standarisasi EKG antara lain
a. Kalibrasi 1 mv (10 mm)
b. Kecepatan 25 mm/detik
Setelah itu lakukan kalibrasi dengan menekan tombol run/start dan setelah kertas bergerak, tombol kalibrasi ditekan
2 -3 kali berturut-turut dan periksa apakah 10 mm
3. Dengan memindahkan lead selector kemudian dibuat pencatatan EKG secara berturut-turut yaitu sandapan (lead) I, II, III, aVR,aVL,aVF,VI, V2, V3, V4, V5, V6.
Setelah pencatatan, tutup kembali dengan kalibrasi seperti semula sebanyak 2-3 kali, setelah itu matikan mesin EKG
4. Rapikan pasien dan alat-alat.
a. Catat di pinggir kiri atas kertas EKG
b. Nama pasien
c. Umur
d. Tanggal/Jam
e. Dokter yang merawat dan yang membuat perekaman pada kiri bawah

6. hal yang perlu diperhatikan
1. Sebelum bekerja periksa dahulu tegangan alat EKG.
2. Alat selalu dalam posisi stop apabila tidak digunakan.
3. Perekaman setiap sandapan (lead) dilakukan masing - masing 2 - 4 kompleks
4. Kalibrasi dapat dipakai gambar terlalu besar, atau 2 mv bila gambar terlalu kecil.
5. Hindari gangguan listrik dan gangguan mekanik seperti ; jam tangan, tremor, bergerak, batuk dan lain-lain.
6. Dalam perekaman EKG, perawat harus menghadap pasien.

7. CARA MEMBACA EKG
Ukuran-Ukuran pada kertas EKG
Pada perekaman EKG standar telah ditetapkan yaitu :
1. Kecepatan rekaman 25 mm/detik (25 kotak kecil)
2. Kekuatan voltage 10 mm = 1 millivolt (10 kotak kecil)
Jadi ini berarti ukuran dikertas EKG adalah
1. Pada garis horisontal
• tiap satu kotak kecil = 1 mm = 1/25 detik = 0,04 detik
• tiap satu kotak sedang = 5 mm = 5/25 detik = 0,20 detik
• tiap satu kotak besar = 25 mm = 25125” = I ,00 detik
2. pada garis vertikal
• 1 kotak kecil = 1 mm =0.1 mv
• 1 kotak sedang = 5 mm = 0,5 mv
• 2 kotak sedang = 10 mm= I milivolt

8. NILAI-NILAI EKG NORMAL
1. Gelombang P yaitu depolarisasi atrium.
a. Nilai-normal ; lebar

b. tinggi : <0,25>

c. bentuk :+ ( ) di lead I, II, aVF, V2 - V6
d. - ( ) di lead aVR
e. + atau - atau + bifasik ( ) di lead III, aVL, V1
2. Kompleks QRS yaitu depolarisasi dan ventrikel, diukur dari permulaan gelombang QRS sampai akhir gelombang QRS Lebar 0,04 - 0,10 detik
a. Gelombang Q yaitu defleksi pertama yang ke bawah (-) lebar 0,03 detik, dalam <1/3>

b. Gelombang R yaitu defleksi pertama yang keatas (+)
• Tinggi ; tergantung lead.
• Pada lead I, II, aVF, V5 dan V6 gel. R lebih tinggi (besar)
• Gel. r kecil di V1 dan semakin tinggi (besar) di V2 - V6.
c. Gelombang S yaitu defleksi pertama setelah gel. R yang ke bawah (-).
Gel. S lebih besar pada VI - V3 dan semakin kecil di V4 - V6.
3. Gelombang T yaitu repolarisasi dan ventrikel
a. (+) di lead I, II, aVF, V2 - V6.
b. (-) di lead aVR.
c. (±) / bifasik di lead III, aVL, V1 (dominan (+) / positif)
4. Gelombang U ; biasanya terjadi setelah gel. T (asal usulnya tidak diketahui) dan dalam keadaan normal tidak terlihat.

9. MEKANISME TERBENTUKNYA SUATU GELOMBANG
Ini ditentukan hasil catatan aktivitas elektris sel otot jantung
Pada sel otot jantung ada arah penyebaran impuls (VEKTOR) saat jantung berkontraksi yaitu depolarisasi dan repolarisasi yang ditandai adanya depleksi pada EKG

10. HUBUNGAN VEKTOR PADA EKG NORMAL
Pada jantung yang sehat )normal) vector dominan adalah mengarah ke bawah dan ke kiri

11. KRITERIA INTERPRETASI EKG
a. FREKWENSI (Heart Rate)

Frekwensi jantung ( HR ), normal ; 60- 100 x / menit
Cara menentukan jumlah frekwensi/kecepatan permenit

· Untuk irama yang regular yaitu 1500 dibagi jumlah kotak kecil antan R-R (jarak dan R1 ke R2) = HR / menit

· Untuk irama irreguler yaitu direkam EKG dalam 6 detik, hitung beberapa banyak kompleks QRS kemudian dikalikan 10 HR/ menit (jumlah R R dalam 6 detik dikali 10 H R / menit)
CATATAN Setiap EKG irregular (ARITMIA), rekam lead II panjang

b. IRAMA (Rhythm)

· Bila teratur (reguler) dan gel. P selalu diikuti gel. QRS-T yakni normal disebut Sinus Ritme (irama sinus).

· Bila irama cepat lebih dan 100 kali/menit disebut sinus tachikardi kurang dan 60 kali/menit disebut sinus bradikardi

· Selain dan yang tersebut di atas adalah aritmia

c .GELOMIBANG P (P WAVE)

Diukur dan awal sampai akhir gel. P
Nilai normal ; lebar <0,11>tinggi <0,25>Kepentingan:

· menandakan adanya aktivitas atrium

· menunjukkan arah aktivitas atrium

· menunjukkan tanda-tanda pembesaran atrium.

· P-R INTERVAL

Diukur dan awal gel.P sampai dengan awal gel.QRS Nilai normal ; 0,12 - 0,20 detik .Kepentingan:

- Interval PR >0,20 detik : AV Block
- Interval PR <0,12>3.
Interval PR berubah-ubah : Wandering Pacemaker.

d. KOMPLEKS QRS

Pengukuran kompleks QRS ada 3 yang dinilai

· Lebar/interval : diukur dan awal sampai dengan akhir gel.QRS
Nilai normal : <0,10>Kepentingan : menandakan adanya Bundle Branch Block:
lebar 0,10 - 0,12 = Incomplete B B B.
Lebar >0,12 detik = Complete B B B.

· AXIS ( sumbu )
Nilai normal : - 300 sampai + 1100
Cara menentukan axis yaitu dengan melihat 2 lead yang berbeda ekstremitas lead, yang terbaik adalah lead I & AVF
Kemudian :
tentukan jumlah aljabar dari amplitudo QRS di lead I dan aVF
tentukan di kwadrant mana vektor QRS berada
Kepentingan
300 sampai - 900 adalah L A D (Left Axis Deviation)
+ 1100 sampai 1800 adalab R A D (Right Axis Deviation)
3. Komfigurasi (bentuk)
Nilai normal :
Positif di lead I, II, aVF, V5, V6 ; Negatif di lead aVR, V1, V2
Bifasik di lead III, aVL, V3, V4, ( + / - )
Kepentingan mengetahui :
Q patologis
RAD/LAD
RVH/LVH

e. SEGMEN ST (st segment)

Diukur dari akhir gel.QRS (J Point) sampai awal gel. T
Nilai normal isoelektris (- 0,5 mm sampai + 2,5 mm)
Kepentingan:
Mengetahui kelainan pada otot jantung (iskemia dan infark)

f. GELOMBANG T (T wave)

Ukurannya dari awal sampai dengan akhir gel. TNilai normal amplitudo (tinggi) : Minimum 1 mm

Kepentingan:
- menandakan adanya kelainan otot jantung (iskemia/infark)

- menandakan adanya kelainan elektrolit.
Catatan:
- Komfigurasi Gel. T Positif di lead I,II,aVF,V2-V6
- Negatif di lead aVR

- Bifasik di lead III, aVL, V1.

ELEKTROENSEFALOGRAM(EEG)

A DEFINISI

Electroencephalogram ( EEG) adalah suatu test untuk mendeteksi kelainan aktivitas elektrik otak (Campellone, 2006).

B. INDIKASI EEG dilakukan untuk (Jan Nissl, 2006)

Mendiagnosa dan mengklasifikasikan Epilepsi

Mendiagnosa dan lokalisasi tumor otak, Infeksi otak, perdarahan otak,

parkinson

Mendiagnosa Lesi desak ruang lain

Mendiagnosa Cedera kepala

Periode keadaan pingsan atau dementia.

Narcolepsy.

Memonitor aktivitas otak saat seseorang sedang menerima anesthesia umum

selama perawatan.

Mengetahui kelainan metabolik dan elektrolit

Gambaran EEG Normal

Gb. EEG dari atas kebawah : alfa, beta, teta, delta (sumber : Louis, 2006)

B. INDIKASI

indikasi dan kegunaan EEG :

· Pasien yang mengalami kejang atau yang diduga mengalami kejang.
· Mengevaluasi efek serebral dari berbagai penyakit sistemik (misalnya keadaan ensefalopati metabolik karena diabetes, gagal ginjal).
· Melakukan studi untuk mengetahui gangguan tidur ( sleep disorder ) atau narkolepsi.
· Membantu menegakkan diagnosa koma.
· Melokalisir perubahan potensial listrik otak yang disebabkan trauma, tumor, gangguan pembuluh darah (vaskular) dan penyakit degeneratif.
· Membantu mencari berbagai gangguan serebral yang dapat menyebabkan nyeri kepala, gangguan perilaku dan kemunduran intelektual.

C. PROSEDUR

1. Persiapan pasien

  • Sebelum dilakukan electroencephalogram ( EEG) agar berhenti meminum

obat tertentu ( seperti obat penenang ) karena dapat mempengaruhi aktivitas

elektrik dan hasilnya.

  • Hindari makanan yang mengandung kafein ( seperti kopi, teh, cola, dancoklat) sedikitnya 8 jam sebelum test. Makanlah dalam porsi kecil sebelum test, sebab gula darah rendah ( hypoglycemia) dapat menghasilkan test abnormal.
  • Karena electroda terikat dengan kulit kepalamu, maka rambut harus bebas

dari minyak rambut, atau cairan yang mengandung obat kulit, dan sampolah

rambut serta membilas dengan air bersih saat mandi sore atau pagi hari

sebelum di lakukan test.

  • Tidur dapat mempengaruhi hasil EEG maka ushakan agar pasien tidak tertidur saat dilakukan test, jika anak-anak akan di EEG coba untuk tidur

sebentar tepat sebelum dilakukan test.

2. Pelaksanaan EEG

  • EEG pada umumnya berlangsung selama 2 jam.
  • Setelah test, pasien boleh beraktivitas seperti biasa. Pasien dalam posisi tiduran berbaring pada suatu tempat tidur atau relax di kursi dengan mata tertutup.
  • Electroda EEG ditempelkan ke tempat berbeda di atas kepala dengan menggunakan suatu pasta lengket agar electroda dapat menempel. Electroda dihubungkan lewat kawat suatu mesin yang memperkuat suara dan arsip aktivitas dalam otak . Arsip aktivitas elektrik sebagai rangkaian berbentuk ombak/keriting yang digambar oleh suatu baris pena pada kertas atau sebagai suatu gambaran pada layar komputer. Coba untuk tenang, dengan mata tertutup sepanjang perekaman, dan yang melakukan perekaman akan mengamati pasien secara langsung untuk memberi intruksi agar pasien :

Bernafas dengan cepat ( hyperventilasi). Pada umumnya lama pernapasan kurang lebih 20 x per menit.

Melihat cahaya terang untuk rangsangan stroboscopic atau photic.

Tidur, Jika pasien tidak mampu untuk tertidur maka akan diberi suatu obat penenang, dengan tujuan untuk mengevaluasi masalahpada saat tidur.

3. Bagaimana rasa saat dilakukan perekaman EEG

  • Electroencephalogram ( EEG) adalah suatu pemeriksaan tanpa rasa sakit

sepanjang perekaman.

  • Jika pasta digunakan untuk menempelkan electroda, sebagian pasta akan tetap

menempel di rambut pasien setelah test, maka rambut harus dicuci agar bersih. Jika jarum yang digunakan untuk menempelkan electrode (tapi sekarang jarang digunakan) pasien akan merasakan suatu sensasi penusukan

tajam seperti ketika mencabut rambut. Jika electroda ditempatkan di dalam

hidung pasien, pasien akan merasakan sensasi yang menggelitik, gelisah.

Beberapa hari (kurang lebih 2 hari) akan merasakan sakit bekas tusukan yang

ringan setelah test.

  • Jika pasien diminta untuk bernafas/meniup dengan cepat, pasien akan

merasakan lightheaded atau kekebasan pada jari, reaksi ini normal. itu akan

menghilang dalam beberapa menit setelah pasien mulai bernafas secara

normal lagi.

4. Risiko :

  • Electroencephalogram ( EEG) adalah alat perekam yang menghasilkan

gelombang elektris yang diproduksi oleh otak yang direkam, dan tidak

dapat memasuki badan pasien. EEG tidak sama dengan electroshock

(electroconvulsive therapy).

  • Jika terjadi kejang pada pasien epilepsi maka hal ini karena dicetuskan oleh

penyinaran [cahaya] atau hyperventilasi bukan karena alat EEG, maka tim

medis yang terlatih akan memberi pertolongan/perawatan selama perekaman

berlangsung.

5. Hasil

  • Gelombang alfa mempunyai frekwensi 8-12 siklus per detik. Gelombang alfa

terlihat normal pada saat bangun dan mata tertutup (tidak tertidur).

  • Gelombang Beta mempunyai suatu frekwensi 13-30 siklus per detik.

Gelombang ini secara normal ditemukan ketika siaga atau menjalani

pengobatan tertentu, seperti benzodiazepines atau pengobatan

anticonvulsants.

  • Gelombang delta mempunyai suatu frekwensi kurang dari 3 siklus per detik.

Gelombang secara normal ditemukan hanya pada saat sedang tidur dan anak-anak muda.

  • Gelombang teta mempunyai frekwensi 4-7 siklus per detik. Gelombang ini

secara normal ditemukan hanya pada anak-anak atau selama tidur

Orang dewasa yang terjaga, EEG menunjukkan gelombang alfa

lebih banyak dibanding dengan gelombang beta.

Hasil dua sisi otak menunjukkan pola serupa dari aktivitas

elektrik.

Tidak ada gambaran gelombang abnormal dari aktivitas elektrik dan tidak ada gelombang yang lambat.

Jika pasien dirangsang dengan cahaya (photic) selama test maka hasil gelombang tetap normal.

Abnormal

Hasil dua sisi otak menunjukkan pola tidak serupa dari aktivitas elektrik.

EEG menunjukkan gambaran gelombang abnormal yang cepat atau lambat, hal ini mungkin disebabkan oleh tumor otak, infeksi/peradangan, injuri, strok, atau epilepsi. Ketika seseorang mempunyai epilepsi dengan pemeriksaan EEG ini bisa diketahui daerah otak bagian mana yang aktivitas listriknya tidak normal. Namun pemeriksaan EEG saja tidak cukup, sebab EEG diambil selalu pada saat tidak ada serangan kejang bukan pada saat serangan, karena tidak mungkin orang yang sedang mengalami serangan epilepsi dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa EEG. Maka, pemeriksaan EEG harus ditunjang oleh pemeriksaan otak itu sendiri, yaitu melihat gambaran otaknya dengan teknik foto Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jadi EEG dengan sendirinya tidak cukup untuk mendiagnosa penyakit neurology tetapi perlu dengan pemeriksaan yang lain.

Berbagai keadaan dapat mempengaruhi gambaran EEG. EEG yang abnormal dapat disebabkan kelainan di dalam otak yang tidak hanya terbatas pada satu area khusus di otak, misalnya intoksikasi obat, infeksi otak (ensefalitis), atau penyakit metabolisme (Diabetik ketoasidosis).

EEG menunjukkan grlombang delta atau gelombang teta pada orang dewasa yang terjaga. Hasil ini menandai adanya injuri otak.

EEG tidak menunjukkan aktivitas elektrik di dalam otak ( a “ flat/” atau “ garis lurus” ). Menandai fungsi otak telah berhenti, yang mana pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya (penurunan) aliran darah atau oksigen di dalam otak. Dalam, beberapa hal, pemberian obat penenang dapat menyebabkan gambaran EEG flat. Hal ini juga dapat dilihat di status epilepsi setelah pengobatan diberikan.

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil test

  • Kelebihan bergerak (kepala, badan, mata, atau lidah).
  • Ketidakmampuan untuk bekerja sama
  • Ketenangan
  • Obat-oabatan (antiepilepsi, penenang, dan obat tidur).
  • Tidak sadar akibat obat-obatan atau hypothermia
  • Rambut yang kotor, berminyak, atau pemakaian hairspray

7. Perhatian

  • Pada saat dilakukan perekaman EEG pasien dapat mengalami kegelisahan karena waktu yang lama, tempat yang asing, alat-alat yang menempel di otak dll, sehingga akan mempengaruhi hasil EEG, untuk itu perlu didampingi dan diberi penjelasan agar pasien tenang sehingga hasilnya sesuai yang diharapkan.
  • Pada pasien dengan epilepsi pemeriksaan EEG saja tidak cukup, sebab EEG diambil selalu pada saat tidak ada serangan kejang bukan pada saat serangan, karena tidak mungkin orang yang sedang mengalami serangan epilepsi dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa EEG. Maka, pemeriksaan EEG harus ditunjang oleh pemeriksaan otak itu sendiri, yaitu melihat gambaran otaknya dengan teknik foto Magnetic Resonance Imaging (MRI), sebab MRI merupakan satu teknik pencitraan otak yang memungkinkan dapat melihat secara rinci seluruh bagianbagian otak, apakah ada kelainan atau tidak.
  • Suatu electroencephalogram ( EEG) bukanlah suatu test yang sangat mudah tetapi perlu ketelitian dan pengalaman sebab salah satu contah saja ada sebagian orang yang tidak menderita epilepsi tetapi EEG abnormal, dan sebagian orang yang mempunyai epilepsi mempunyai EEG normal. Jika epilepsi dicurigai dan hasil EEG normal tetapi berdasarkan gejala dan keluhan menunjukkan diagnosa epilepsi maka boleh mengulangi EEG lebih dari sekali.
  • Perhatikan factor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil EEG misalnya perubahan tahap-tahap tidur, usia, stimulus visual, auditorik dan olfaktorik, tekanan, trauma emosional, dll.
  • Simpanlah hasil perekaman EEG (arsip) agar dapat dilihat ulang apa yang terjadi tepat sebelum, selama, dan benar setelah suatu perekaman, sehingga secara tepat dapat mengidentifikasi area spesifik dari kelainan otak.

:

Bronkoskopi

Pemeriksaan bronkoskopi telah membuka lembaran baru dibidang pulmonologi. Dengan cara ini secara langsung dapat dilihat keadaan saluran nafas mulai dari trakea sampai beberapa tingkat percabangan bronkus. Saat ini pemeriksaan bronkoskopi sudah demikian pentingnya sehingga merupakan alat diagnostik yang sudah tidak dapat dipisahkan lagi dalam bidang pulmonologi.

Manfaat pertama pemeriksaan bronkoskopi ialah melihat langsung keadaan saluran nafas bagian atas maupun saluran nafas bagian bawah. Kelainan yang dapat dilihat secara langsung ( direct findings ) ialah :

�� Tumor

�� Nekrosis

�� Pelebaran pembuluh darah

�� Mukosa yang normal atau irregular, hiperemik, membengkak

�� Pengaburan tulang rawan bronkus

�� Obstruksi

�� Stenosis

�� Kompresi

Bronkoskopi adalah tindakan medis yang bertujuan untuk melakukan visualisasi trakea dan bronkus, melalui bronkoskop, yang berfungsi dalam prosedur diagnostik dan terapi penyakit paru. Indikasi pemeriksaan bronkoskopi adalah: batuk darah (hemoptysis), batuk kronik, mengi (wheezing), kecurigaan keganasan, evaluasi pembedahan.

Bronkoskopi adalah inspeksi dan pemeriksaan langsung pada laring, trakea dan bronki. Baik melalui bronkoskop serat optic yang fleksibel atau bronkoskop yang kaku.

Dalam perkembangannya, bronkoskop dibagi atas bronkoskop rigid dan bronkoskop fleksibel.

1. bronkoskop serta opitk yang fleksibel

Bronkoskop fleksibel, yang saat ini banyak dipergunakan menggunakan serat optik, sehingga memberikan kemudahan visualisasi bronkus perifer. Bronkoskop fleksibel mulai diperkenalkan oleh Shigeto Ikeda, pada International Congress on Diseases of the Chest ke 9 di Kopenhagen tahun 1966.

bronkoskop serat optic di toleransi lebih baik oleh pasien disbanding bronkoskop yang kaku, memungkinkan biopsy tumor yang sebelumnya tidak dapat dicapai. Aman digunakan untuk pasien yang sakit parah an dapat dilakukan I tempat tidur atau melalui selang endotrakeal./ trakeostomi. ( insisi trakea yang dilakukan melalui kulit dan otot leher). Pada pasien dengan ventilator ( peralatan yang dirancang untuk memperbaiki udara yang dihirup melaluinya/ membantu mengontrol ventilasi paru baik secara intermitten atau kontinoe ).

Ventilasi : pertukaran udara antara paru – paru dengan udara luar )

Bronkoskop serat optic memungkinkan intubasi alngsung dari lobus.

2. bronkoskop kaku

Bronkoskop rigid (kaku) diperkenalkan oleh Gustav Killian (1860-1921) dan Joseph P. O'Dwyer (1841-1894).

selang logam berongga dengan cahaya pada ujungnya. Digunakan untuk mengangkat bena asing, menghisap sekresi yang sangat kental ,meneliti sumber hemoptisis masif ( sputum bercampur arah akibat infeksi paru – paru atau melakukan prosedur bedah endo bronchial.

Tujuan :

♦ bronkoskopi diagnostic

● untuk memeriksa jaringan dan mengumpulkan sekresi

● menentukan lokasi dan keluasan proses patologi dan untuk

mendapatkan contoh jaringan guna menegakkan diagnosis

● menentukan apakah suatu tumor bisa direseksi ( pengangkatan )

atau tidak melalui tinadakan pendarahan

● untuk mendiagnosa tempat pendarahan ( sumber hemoptisis

♦ bronkoskopi Terapeutik

Digunakan untuk :

● mengangkat benda asing ari pohon trakeal

● mengangkat sekresi yang menyumbat pohon trakeobronkial ketika

pasien tidak dapat membersihkannya

● untuk memberikan pengobatan pasca operatif dalam atelektasis (

Pengempisan paru yang tiak sempurna )

● mengeksisi lesi

Indikasi Pemeriksaan Bronkoskopi

Hemoptos,Perselubungan di hilus,Perselubungan total 1 hemitoraks,Sesak nafas,Batuk kronik,Coin lesion,Sakit dada,Perselungan hilus dan perifer,Perselubungan perifer,Tumor Colli,Suara parau,Dahak banyak,Gambaran sarang lebah,Nafas bau,Sakit menelan,Klasifikasi terbesar,Struma,Korpusalienous,Pilek luar biasa,Sumbat leher,Carsienoma,endometrium,Miyoma uteri,Perselubungan para trakeal

Prosedur ( deskripsi tindakan )

Bronkoskopi yang tipis dan fleksibel yang tepat dan dapat diarahkan ke dalam bronki segmental, karena ukurannya yang lebih kecil, fleksibilita,an system optikal yang sangat baik. Bronkoskop serat optic memungkinkan peningkatan visualisasi jalan napas perifer dan sangat tepat untuk mendiagnosa lesi pulmonal.